
Pernah gak sih kita dapat pertanyaan yang kedengarannya biasa, tapi rasanya kayak dipojokkan?
“Kapan nikah?”
“Udah kerja belum?”
“Kok belum punya rumah?”
“Lihat tuh si A, umurnya sama kayak kamu tapi udah ini udah itu.”
Dan kalau udah nikah, pertanyaannya gak berhenti di situ.
“Udah isi belum?”
Kedengarannya seperti perhatian. Tapi rasanya kayak dapet kartu merah dari wasit.
Aku juga pernah dapat versi yang berbeda dari pertanyaan-pertanyaan itu.
“Coba lamar kerja di sini.”
“Kalau bisa cari yang gajinya tetap.”
“Jangan ambil risiko, yang aman-aman aja dulu.”
Kedengarannya kayak nasihat. Tapi tetep aja, rasanya kayak dipojokkan.
Yang bikin berat bukan pertanyaannya, tapi karena aku sendiri pun gak tau maunya apa. Jadi aku nurut-nurut aja. Kedengarannya selalu masuk akal. Dan itu berlangsung bertahun-tahun.
Sampai aku akhirnya capek sendiri.
Karena lama-lama aku sadar: aku gak punya sesuatu yang aku pegang sendiri.
Gak ada keputusan yang benar-benar keluar dari diriku. Yang ada cuma terus memikirkan apa kata orang tentang langkah yang mau aku ambil.
Puncaknya pas aku serius mau mulai bikin konten. Waktu itu aku sadar: di era sekarang, personal branding dan konten adalah salah satu karir yang paling masuk akal buat aku kejar. Itu keputusan pertama yang benar-benar keluar dari diriku sendiri.
Dan yang paling sering bikin aku ragu bukan soal teknis.
Bukan kamera. Bukan script konten. Bukan algoritma.
Yang bikin aku ragu adalah satu pertanyaan ini:
“Nanti temen-temen deketku bilang apa ya?”
Bukan followers. Bukan orang asing di internet. Justru orang-orang yang paling aku kenal.
Aku bayangin mereka buka sosmed, lihat kontenku, dan mulai batin:
“Eh si Wigo sekarang sok positif ya.”
“Sok motivator.”
“Kemarin-kemarin hidupnya juga gak beres-beres amat.”
Suara-suara itu yang terus berputar di kepala. Bikin aku gak mulai-mulai ngonten.
Dan yang bikin frustrasi, aku tau itu cuma pikiran. Aku tau mereka mungkin gak sepeduli itu. Tapi rasa takut dihakimi itu tetep ada.
Karena ternyata masalahnya bukan di pikiran.
Masalahnya jauh lebih dalam dari itu.
Di artikel ini kita bahas kenapa otak kita memang gak dirancang buat bodo amat dengan mudah dan satu hal yang akhirnya benar-benar mengubah cara aku melihat semuanya.
Kalau punya waktu sampai akhir, aku rasa ini worth it.
Mari kita bedah satu per satu.
I. Otakmu Memang Dirancang untuk Peduli Banyak Hal
Sebelum kita bahas gimana caranya bodo amat, kita perlu luruskan dulu soal satu hal.
Peduli sama omongan orang itu bukan kelemahan. Bukan bukti kamu terlalu sensitif.
Itu tanda kamu manusia biasa.
Coba ingat-ingat.
Kapan terakhir kali kamu posting sesuatu di sosmed dan langsung cek notifikasi beberapa menit kemudian?
Atau nulis pesan panjang, hapus, tulis ulang, hapus lagi, karena takut salah tangkep?
Atau diam di rapat bukan karena gak punya pendapat, tapi karena takut pendapatmu dianggap aneh?
Itu bukan paranoid.
Itu otakmu yang sedang bekerja sesuai tugas dan fungsinya.
Walaupun emang gak semua orang kayak gini, ada juga yang cuek dan gak terlalu mikirin perasaan orang lain.
Yang jelas, ada tiga kebutuhan dasar yang bikin kita cenderung selalu peduli sama omongan orang:
- Kebutuhan untuk dicintai dan dihargai
Kalau dikupas sampai ke level dasar, semua overthinking tentang omongan orang itu bermuara ke satu pertanyaan yang sama: apakah aku cukup berharga?
Kita semua butuh dikasihi, bukan dikasihani. Dan kalau kita belum menemukan sumber kasih yang tepat, kita carinya bisa dari mana saja (dari like sosmed, dari pujian, dari pengakuan orang sekitar).
Bukan karena kita lemah. Tapi karena kebutuhan itu memang nyata.
- Kebutuhan untuk merasa bisa kontrol segalanya
Kita pikir kalau bisa mengontrol persepsi orang tentang kita, kita aman. Tapi itu ilusi.
Kita gak pernah benar-benar bisa mengontrol apa yang orang pikirkan. Dan di situlah asalnya kecemasan: bukan dari masalah yang kita hadapi, tapi dari usaha kita untuk mengontrol sesuatu yang dari awal gak pernah bisa kita kendalikan.
Semakin keras kita berusaha mengontrol, semakin cemas yang kita rasakan.
Intinya, kalau kita selalu menganggap hilangnya kontrol sebagai sinyal bahaya, kita akan selalu hidup dalam kecemasan.
- Kebutuhan untuk konsistensi
Otak kita menyukai hal yang bisa diprediksi. Kalau sesuatu berubah dari pola yang biasa, otak langsung waspada.
Pernah tiba-tiba gak nyaman kalau ada orang yang biasanya senyum ke kamu, tapi hari itu dia diam aja? Atau langsung mikir macem-macem kalau chatmu sama doi cuma di-read tapi gak dibales?
Itu otakmu yang mendeteksi ketidakkonsistenan dan langsung menganggapnya sebagai sinyal bahaya.
Sekitar 95% perilaku kita sehari-hari berjalan secara otomatis dalam alam bawah sadar.
Artinya, peduli sama omongan orang itu bukan keputusan sadar yang kamu buat setiap hari. Itu program yang udah berjalan sendiri: hasil dari bertahun-tahun terbiasa mengukur diri sendiri dari respons orang lain.
Dan program yang sudah tertanam sedalam itu gak bisa diubah cuma dengan nasehat “jangan terlalu peduli sama omongan orang lain”.
Itulah kenapa kamu gak bisa “selow aja” pas ada yang komentar negatif tentang kamu.
Bukan karena kamu lemah.
Tapi karena yang perlu diubah bukan sikapnya, tapi programnya. Dan untuk ganti program, kamu butuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tekad yang kuat.
Jadi kalau emang otakmu dirancang seperti itu, wajar kalau susah jadi bodo amat sama omongan orang lain.
Tapi wajar bukan berarti kita pasrah di sana. Kita mulai bisa menerima dan memahami cara otak kita bekerja dan pelan-pelan mengubahnya.
II. Kamu Nggak Sepenting Itu
Ini mungkin kedengarannya agak nyelekit.
Tapi percayalah, ini sebenarnya kabar baik.
Banyak orang yang pengen mulai ngegym tapi gak jadi-jadi.
Bukan karena gak punya waktu.
Bukan karena gak ada gym di dekat rumah.
Tapi karena takut diliatin orang.
“Nanti aku diketawain karena belum tahu cara pakainya.”
“Nanti orang-orang pada liatin badanku.”
“Nanti dikira sok atletis padahal baru mulai.”
Dan akhirnya, gak jadi mulai.
Bertahun-tahun.
Nunggu motivasi baru lagi.
Padahal kenyataannya, orang-orang di gym itu sibuk sama diri mereka sendiri.
Mereka lagi ngitung repetisi.
Lagi dengerin musik.
Lagi fokus ke cermin depan mereka sendiri.
Otak mereka udah terlalu penuh dengan urusan mereka sendiri.
Ada istilah psikologi untuk fenomena ini: spotlight effect.
Kita semua merasa seolah ada sorotan lampu yang selalu menyinari kita, seolah semua orang memperhatikan setiap langkah kita. Padahal kenyataannya, semua orang juga merasa hal yang sama tentang diri mereka sendiri.
Semua orang sibuk jadi pusat dunianya masing-masing.
Dan ini berlaku di mana saja, bukan cuma di gym.
Semua orang itu punya hidup sendiri yang harus diurus.
Pikiran mereka penuh dengan masalah mereka sendiri, drama mereka sendiri, kekhawatiran mereka sendiri.
Kamu cuma salah satu hal yang lewat di pikiran mereka, di antara ratusan hal lain yang hari itu juga mereka pikirkan.
Tapi jangan salah tangkep dulu. Bukan berarti kamu gak ada artinya.
Kalau kamu dikomentari atau digosipin, itu artinya kamu sedang melakukan sesuatu.
Orang gak melempar batu ke pohon yang gak berbuah. Kalau hidupmu diam di tempat dan kamu gak melakukan apa-apa, gak ada yang perlu diomongin.
Jadi kalau ada yang ngomongin kamu, itu tanda kamu bergerak.
Dan satu hal lagi: orang yang paling keras berkomentar tentang hidup orang lain biasanya adalah orang yang paling gak nyaman dengan hidupnya sendiri.
Mereka gak sedang nge-judge kamu, mereka sedang mencerminkan kegelisahan mereka sendiri.
Itu bukan tentang kamu. Itu tentang mereka.
Jadi next time otakmu mulai overthinking soal omongan orang, inget satu hal ini:
Kamu gak sepenting yang kamu kira di pikiran mereka.
Dan itu bukan penghinaan.
Itu kebebasan.
III. Dua Jawaban yang Ditawarkan Dunia
Oke, jadi kita udah paham, otak kita memang dirancang untuk peduli banyak hal. Dan orang-orang di luar sana gak sepeduli yang kita kira.
Tapi tetap aja, omongan orang itu masih bisa ngena ke psikis kita.
Masih bisa ganggu tidur.
Masih bisa bikin kita ragu sebelum ngambil keputusan.
Jadi apa yang bisa kita lakukan?
Dunia punya dua jawaban. Dan keduanya pernah aku coba.
1. Stoikisme
Filosofi ini sudah ada ribuan tahun dan masih relevan sampai sekarang.
Intinya sederhana: dalam hidup, ada dua hal. Yang bisa dan yang gak bisa kamu kontrol.
Omongan orang masuk ke kategori yang mana?
Yang gak bisa dikontrol.
Jadi solusinya: lepaskan apa yang gak bisa kamu kontrol. Cuma fokus ke reaksimu, tindakanmu, pilihanmu. Bukan apa yang orang lain pikirkan tentangmu.
Dan kayak yang udah kita bahas Bab I tadi: kebutuhan buat merasa bisa mengontrol segalanya itu emang udah tertanam di dalam otak kita. Jadi prinsip melepaskan kontrol ini gak semudah yang kita kira.
Soalnya, ada satu masalah yang jarang dibahas.
Stoikisme itu bicara ke bagian otak yang rasional (Prefrontal cortex) yang bisa berpikir logis dan mengambil keputusan.
Tapi omongan orang gak diproses di sana dulu.
Dia diproses di sistem limbik: bagian otak yang mengatur emosi dan respons terhadap ancaman.
Dan sistem limbik itu bereaksi lebih cepat dari logika berpikir kita.
Dan ini nyambung sama yang udah pernah aku bahas di artikel sebelumnya: namanya metakognisi, kemampuan berpikir tentang pikiranmu sendiri. Skill ini juga butuh latihan yang konsisten, biar kita gak gampang terlalu cepat mereaksi sesuatu.
Makanya kita sering nyesel kalau habis marah, nyadarnya belakangan. Setelah energi udah habis.
Itulah kenapa kita bisa tau kalau omongan orang lain itu gak penting, tapi tetep ngerasa sakit hati kalau gak sesuai sama yang kita mau.
Bukan berarti kita lemah.
Tapi karena prinsip stoikisme ini masih kurang kuat buat menyelesaikan masalah yang ada di level yang lebih dalam.
Misalnya kalau dapet masalah dan tekanan yang lebih besar, prinsip ini jadi kayak gak ada gunanya.
Karena fondasinya masih di level pikiran kita sendiri. Masih bergantung pada seberapa kuat kita bisa mengendalikan diri kita sendiri.
Dan terlalu bergantung pada kekuatan sendiri inilah yang menurut pengalamanku sangat melelahkan.
2. Self-love
Ini juga gak jauh berbeda dari stoikisme.
Self-love itu kedengarannya meyakinkan.
Dan dalam batas tertentu, ini memang perlu.
Menghargai diri sendiri, menjaga kesehatan mental, mengenal batas diri.
Itu sehat. Gak ada yang salah dengan itu.
Yang jadi masalah adalah ketika self-love dijadikan sumber utama.
Motivasi tertinggi.
Tujuan akhir.
Karena di situ dia jadi bermasalah.
Hari ini kamu lagi bahagia.
Kamu bisa mikir jernih dan terima diri sendiri apa adanya.
Kamu ngerasa baik-baik saja.
Tapi besok kondisimu beda.
Kurang tidur, hari-hari sibuk banget, ada satu hal yang gak berjalan sesuai rencana.
Dan kamu ngerasa gak cukup “Self-love” hari ini.
Kamu mulai dari nol lagi.
Siklus yang gak ada ujungnya.
Karena pada dasarnya, kita ini makhluk yang gak mampu mencintai dengan sempurna: termasuk mencintai diri sendiri.
Jadi kalau solusinya cuma disuruh “cintai dirimu lebih keras lagi”, masalahnya gak akan pernah selesai.
Aku pernah nulis panjang soal ini dan buktinya dari pengalamanku sendiri.
Ngerasa selalu kurang, selalu belum cukup, selalu harus mulai lagi dari nol.
Semua karena motivasinya terlalu berpusat ke diri sendiri.
Dan semakin hidup kita berpusat ke “aku, aku, aku”, justru semakin membuat kita ngerasa kosong dan sendirian.
Bukan karena self-love itu jahat.
Tapi karena beban “harus selalu mencintai diri sendiri” itu terlalu berat buat ditanggung sendirian.
Jadi kalau dua jawaban yang ditawarkan dunia ini masih belum cukup, berarti masalahnya bukan di jawabannya.
Masalahnya ada di level yang lebih dalam dari itu.
Dan aku gak nemuin dari buku, podcast, atau konten self-improvement manapun.
IV. Ganti Total Sumbernya
Jadi kalau dua jawaban itu belum cukup bikin aku jadi orang yang bener-bener bisa bodo amat sama orang, terus apa dong?
Ini 1 hal yang aku temuin.
Dan aku masih dalam proses memahami ini setiap harinya.
Tapi ada satu pengalaman yang bikin aku mikir lebih dalam.
Aku pernah ngerasa udah berbuat baik ke seseorang berkali-kali.
Udah ada di saat mereka butuh.
Udah kasih waktu, tenaga, kadang juga materi.
Dan semuanya berjalan baik, sampai suatu saat aku melakukan satu hal yang mereka gak suka.
Satu kesalahan.
Dan semua kebaikan sebelumnya seolah gak pernah ada.
Aku yakin banyak yang pernah ngerasain hal yang sama. Dan itu bukan karena orang-orang di sekitar kita jahat.
Tapi emang begitulah cara manusia bekerja, satu hal buruk bisa menghapus banyak hal baik dalam persepsi seseorang.
Jadi bayangkan kalau kita hidup untuk memenuhi standar seperti itu setiap hari.
Kalau terlalu santai, dibilang malas.
Kalau terlalu disiplin, dibilang ngejar duniawi banget.
Kalau diam, dibilang sombong.
Kalau banyak bicara, dibilang sok tau.
Kalau berbagi pencapaian, dibilang pamer.
Kalau gak berbagi, dibilang gak transparan.
Jadi serba salah, apapun yang kita lakukan.
Gak ada posisi yang aman.
Gak ada versi diri kita yang bisa memuaskan semua orang sekaligus.
Dan itu bukan karena kita kurang berusaha, tapi karena standar yang kita kejar itu gak pernah stabil.
Dia berubah tergantung siapa yang menilai, dalam suasana hati apa, dengan kepentingan apa.
Dan di titik itulah aku mulai jujur sama diri sendiri.
Aku udah coba Stoikisme.
Aku udah coba self-love.
Dan keduanya ada benarnya, tapi keduanya juga ada batasnya.
Belakangan ini aku lagi dalam fase yang cukup dalam mempelajari imanku.
Bukan karena tiba-tiba jadi religius.
Tapi karena setelah semua yang aku coba, aku mulai sadar ada sesuatu yang lebih dalam yang belum aku sentuh.
Dan di situ aku nemuin Galatia 1:10.
“Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah aku mencoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”
Aku gak lagi ceramah. Dan aku gak bilang ini mudah atau aku udah sepenuhnya terapin ke kehidupan sehari-hari.
Tapi ayat ini mengubah sesuatu di caraku melihat masalah ini.
Menyenangkan manusia dan menyenangkan Tuhan seringkali bertentangan.
Selama ini aku pikir masalahku adalah aku terlalu peduli sama omongan orang. Tapi ternyata masalah yang lebih dalam bukan di sana.
Masalahnya ada di sumbernya.
Orang lain gak stabil sebagai sumber: standar mereka berubah – hari ini memuji, besok bisa jadi bahan gosip.
Diri sendiri pun gak stabil sebagai sumber: perasaan kita naik turun tergantung kondisi dan masalah yang kita jalani.
Tapi ada satu sumber yang gak bisa berubah dan stabil. Yang standarnya gak pernah berubah. Yang gak bisa digoyahkan hanya karena satu kesalahan kita.
Dan ketika sumberku mulai fokus ke sana, cara aku melihat masalah ini berubah sepenuhnya.
Selama ini aku pikir aku peduli sama omongan orang karena aku terlalu baik hati. Terlalu peduli sama perasaan orang lain.
Tapi ternyata bukan itu.
Yang sebenarnya terjadi adalah aku sedang melakukan jaim atau jaga image. Bukan menjaga perasaan mereka, tapi menjaga perasaanku sendiri.
Pas aku khawatir soal omongan orang lain, pertanyaan yang sebenarnya ada di kepalaku bukan “apa yang terbaik buat mereka?” tapi “gimana biar aku gak keliatan buruk di mata mereka?”
Kelihatannya peduli. Tapi sebenernya takut gak sesuai harapan mereka.
Dan ini yang pelan-pelan aku pelajari: bahkan orang yang paling baik sekalipun, yang paling tulus, yang paling gak egois, tetep aja bisa mengecewakan orang lain.
Bukan karena dia jahat. Tapi karena manusia yang kompleks ini gak mungkin bisa menyenangkan semua keinginan manusia kompleks lainnya.
Dan selama sumbernya masih di manusia (termasuk diri kita sendiri), cepat atau lambat kita akan sampai di titik jenuh.
Karena standar manusia gak akan pernah cukup.
Aku tahu gak semua yang baca ini punya latar belakang iman yang sama. Dan itu gak apa-apa, aku sepenuhnya menghormati. Ini caraku pribadi, ambil yang berguna buatmu. Kalau kamu punya filosofi atau keyakinan lain yang memberikan sumber yang lebih stabil dari manusia, jadikan itu patokanmu. Yang penting bukan labelnya, tapi apakah sumbermu itu benar-benar stabil.
V. Bodo Amat yang Sesungguhnya
Jangan salah paham dulu soal bodo amat.
Bodo amat bukan berarti jadi cuek sama segalanya.
Bukan berarti mati rasa.
Bukan berarti kamu jadi orang yang gak peduli kritikan.
Bodo amat yang sehat itu ketika kamu sadar memilih apa yang layak dipedulikan.
Dan hal-hal kecil yang gak relevan (misalnya omongan orang yang gak sesuai sama prinsip hidupmu), pelan-pelan terasa gak sepenting itu.
Tapi balik lagi sama pertanyaan ini:
Siapa yang menentukan apa yang layak dipedulikan?
Kalau jawabannya dirimu sendiri, kamu balik lagi ke masalah yang sama. Karena seperti yang udah kita bahas, dirimu sendiri pun gak stabil sebagai sumber.
Dan ini yang mentor spiritualku sering bilang: kita sering mengira kita udah kuat.
Udah bisa kontrol diri.
Udah bisa memilih dengan bijak.
Tapi justru di saat kita merasa paling kuat itulah kita paling mudah jatuh.
Bukan karena kita lemah. Tapi karena kita terlalu mengandalkan kekuatan sendiri.
Dan terlalu mengandalkan kekuatan sendiri (seperti yang udah aku rasakan sendiri) itu melelahkan.
Bodo amat yang sesungguhnya bukan soal jadi lebih cuek sama omongan orang.
Tapi soal berhenti mencoba menanggung semuanya sendiri.
Dan kalau pikiranmu lagi penuh sama omongan orang yang gak membangun, jangan langsung diladenin.
Gerak dulu.
Jalan.
Angkat beban.
Apapun.
Bukan karena itu satu-satunya solusi.
Tapi karena kamu gak bisa jernih mikir dari kepala yang penuh kabut.
Dan tubuh yang bergerak itu yang paling cepat bersihin kabut itu.
Dari sana, pikiranmu lebih bisa memilah: mana omongan yang memang perlu didengar, dan mana yang cukup dibiarin lewat.
Dan buat aku pribadi, ada satu pertanyaan yang akhirnya mengubah cara aku melihat semua ini.
Bukan lagi:
“Apa yang mereka pikirkan tentang aku?”
Tapi:
“Apakah omongan ini bikin aku makin deket sama Tuhan, atau justru makin jauh?”
Kalau jawabannya bikin makin jauh, ya udah. Gak perlu dipikir dalem-dalem.
Ini caraku. Dan aku gak bilang ini harus jadi caramu.
Kalau kamu masih nyaman sama self-love atau Stoikisme, itu gak apa-apa.
Aku juga mulai dari sana. Dan dua-duanya ngajarin sesuatu yang berharga.
Tapi ini menurutku pribadi: aku percaya entah 10 atau 20 tahun ke depan, kita masing-masing akan menemukan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri kita yang perlu kita sandarkan.
Bukan karena aku yang bilang. Tapi karena hidup sendiri yang akan ngajarin itu.
Aku sendiri juga masih belajar. Tapi arahnya udah mulai jelas.
Oke, itu aja hari ini.
Terimakasih udah baca sampai akhir.
Terus belajar. Terus bergerak. Terus berserah.
Sampai jumpa Sabtu depan.
– Wigo SP
Disclaimer: Aku bukan dokter, psikolog, atau ahli terapi. Semua yang aku tulis di sini berasal dari pengalaman pribadi dan bacaan yang aku lakukan sendiri. Kalau kamu sedang bergumul dengan masalah yang lebih serius, tolong cari bantuan profesional. Artikel ini hanya satu perspektif dari orang biasa yang sedang dalam perjalanan yang sama denganmu.




