Yang Aku Pelajari Soal Puasa Sebagai Seorang Kristen

February 21, 2026
Wigo

Disclaimer dulu sebelum kamu lanjut baca.

Aku bukan teolog. Bukan pendeta. Bukan orang yang punya gelar di belakang nama soal hal-hal rohani.

Aku cuma manusia biasa yang lagi dalam perjalanan mencari tahu, dan kebetulan nemuin beberapa hal yang rasanya sayang kalau disimpan sendiri.

Jadi anggap aja ini obrolan di kafe. Dua orang, dua gelas kopi, dengan topik yang lebih dalam dari yang biasa kita bahas.

Aku bisa salah. Aku sangat mungkin masih banyak yang belum ngerti. Tapi justru itu yang bikin obrolan ini penting, karena aku nulis ini bukan dari posisi “aku yang paling benar”, tapi dari posisi “orang yang baru aja ngerti” dan masih terus belajar.

Kalau kamu setuju, bagus. Kalau kamu punya perspektif berbeda, lebih bagus lagi.

Yang penting: baca dulu sampai habis. Pikir dulu sebelum bereaksi.

Oke, kita mulai.

Bulan puasa

Di Indonesia (dan di mana pun umat Muslim berada di seluruh dunia), ini momen di mana banyak orang bicara soal menahan diri. Menahan lapar. Menahan haus. Menahan nafsu.

Dan jujur, aku juga “puasa”.

Tapi bukan puasa dalam pengertian religius. Aku melakukan intermittent fasting, pola makan dengan jendela waktu tertentu. 

Tujuannya? Buat kesehatan. Metabolisme jadi fleksibel (bisa bakar lemak/gula sesuai kebutuhan). Autophagy (pembersihan sel-sel rusak). Semua manfaat fisik yang sudah banyak dibahas di dunia kesehatan.

Dan secara fisik, memang terasa manfaatnya. Badan lebih ringan. Jarang sakit. Energi lebih stabil.

Tapi ada satu momen yang bikin aku berhenti dan mikir.

Sekarang posisinya aku udah berhasil lepas dari banyak adiksi negatif. Misalnya kayak berhenti merokok, berhenti alkohol dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya: udah aku tinggalin satu per satu.

Harusnya aku merasa “cukup”, kan?

Tapi ternyata nggak.

Ada kekosongan yang gak bisa dijelaskan.

Aku udah “puasa” dari banyak hal. Tapi tetap ada ruang kosong di dalam yang gak terisi. Sampai akhirnya aku sadar: ruang itu bukan untuk makanan fisik. Ruang itu untuk makanan rohani yang selama ini gak pernah aku makan.

Dan dari situ, aku mulai memahami puasa dengan cara yang berbeda.

Puasa Bukan Sekadar Tidak Makan

Ini yang perlu dipahami dulu.

Kalau kamu cuma nggak makan, itu bukan puasa. Itu cuma lapar.

Puasa dalam pengertian Alkitab bukan soal perut kosong. Puasa adalah sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mengakui keterbatasan. Meminta pertolongan.

Di Alkitab, ada kisah tentang sebuah kota bernama Niniwe.

Ketika Yunus mengumumkan bahwa kota itu akan dihancurkan dalam 40 hari, seluruh penduduk (dari raja sampai rakyat biasa, bahkan ternak) berpuasa dan merendahkan diri. Mereka berseru kepada Tuhan.

Dan apa yang terjadi? Tuhan membatalkan malapetaka itu.

Puasa mereka bukan sekadar ritual lapar. Puasa mereka adalah teriakan jiwa, pengakuan bahwa mereka butuh Tuhan.

Ini bedanya puasa sejati dengan sekadar diet berkedok spiritual.

Puasa yang Ditolak Tuhan

Ada bagian Alkitab yang sangat penting soal puasa: Yesaya 58.

Di sini, bangsa Israel komplain kepada Tuhan:

“Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak melihatnya? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak memperhatikannya?” — Yesaya 58:3

Dan jawaban Tuhan tidak seperti yang mereka harapkan:

“Sesungguhnya pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena.” — Yesaya 58:3-4

Tuhan pada dasarnya bilang: “Puasamu palsu”

Mereka tidak makan, tapi hati mereka tetap penuh amarah. Mereka lapar, tapi ego mereka tetap kenyang. Mereka menahan makanan, tapi tidak menahan lidah yang menyakiti.

Ini yang disebut puasa transaksional, bukan relasional. Mereka pikir dengan tidak makan, Tuhan “harus” menjawab doa mereka. Kayak mesin ATM: aku sudah masukin kartunya nih, mana uangnya?

Tuhan menolak puasa seperti itu.

Puasa yang Diterima Tuhan

Terus, puasa seperti apa yang Tuhan mau?

Yesaya 58:6-7 melanjutkan:

6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Lihat pola-nya?

Puasa sejati bukan soal apa yang kamu tahan dari mulutmu. Puasa sejati soal apa yang kamu lepaskan dari hatimu.

Melepaskan kejahatan. Melepaskan ego. Melepaskan keinginan untuk selalu benar. Melepaskan amarah, iri, dengki. Melepaskan kedagingan.

Puasa sejati adalah kelaparan rohani, bukan sekadar kelaparan fisik.

Kamu bisa nggak makan 40 hari, tapi kalau hatimu masih penuh kebencian, itu bukan puasa. Itu cuma mogok makan.

Puasa dalam Kerahasiaan

Yesus juga bicara soal ini di Matius 6:16-18.

Dia menegur orang-orang Farisi yang kalau puasa, wajahnya dibuat muram. Rambutnya acak-acakan. Penampilannya dibuat menderita, supaya semua orang tau mereka sedang puasa.

Yesus bilang: “Mereka sudah mendapat upahnya.”

Upah apa? Pujian dari manusia. Itu aja. Selesai.

Lalu Yesus mengajarkan cara yang benar:

“Ketika kamu berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa kamu sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”

Puasa sejati adalah antara kamu dan Tuhan. Bukan sebuah pertunjukan.

Kalau kamu puasa dan posting di media sosial supaya orang kagum: kamu sudah dapat upahmu.

Kalau kamu puasa dan membanggakannya di depan temen-temen: kamu sudah dapat upahmu.

Puasa yang menggerakkan tangan Tuhan adalah puasa yang tidak ada siapapun yang tau kecuali Dia.

Puasa dari Apa?

Ini pertanyaan penting yang sering terlewat.

Kebanyakan orang mikir puasa = nggak makan.

Tapi coba lihat lagi apa yang Yesus hadapi ketika Dia berpuasa 40 hari di padang gurun. Setan menggoda-Nya dengan 3 hal:

  1. Nafsu daging — “Ubah batu ini jadi roti” (godaan untuk memuaskan tubuh)
  2. Nafsu mata — “Semua kerajaan dunia ini akan kuberikan padamu” (godaan kekuasaan dan materi)
  3. Kesombongan hidup — “Jatuhkan dirimu dari atas bait Allah, buktikan kamu Anak Allah” (godaan untuk pamer dan membuktikan diri)

1 Yohanes 2:16 merangkumnya: Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Jadi puasa sejati bukan cuma nggak makan.

Puasa sejati adalah kelaparan dari:

  • Nafsu daging — keinginan tubuh yang berlebihan (kebanyakan makan misalnya)
  • Nafsu mata — iri, ingin apa yang orang lain punya
  • Kesombongan hidup — ego, kebutuhan untuk selalu benar, kebutuhan untuk dipuji dan dapat validasi dari luar

Kamu bisa makan 3 kali sehari tapi tetap berpuasa, kalau kamu sedang melaparkan ego dan keangkuhanmu.

Dan sebaliknya, kamu bisa nggak makan 7 hari tapi nggak terhitung berpuasa sama sekali , kalau hatimu tetap penuh kesombongan.

Mulai dari Mana?

Oke, sekarang pertanyaan yang sering muncul: Secara praktisnya, gimana?

Jujur, dalam Kekristenan nggak ada aturan baku soal puasa.

Berapa lama? Terserah.
Boleh minum? Terserah.
Harus kapan? Terserah.

Yang penting adalah sikap hati, bukan durasi.

Di Alkitab sendiri ada beberapa contoh nyata:

  • Puasa Ester — 3 hari tidak makan tidak minum (ini berat, tidak untuk semua orang)
  • Puasa Daniel — 21 hari tidak makan makanan tertentu (daging dan segala makanan dan minuman yang mewah)
  • Puasa Yesus — 40 hari tidak makan, tapi kemungkinan tetap minum (karena tertulis “Dia lapar” bukan “Dia haus”)

Yang penting bukan seberapa berat puasamu. Yang penting adalah apa yang terjadi di dalam hatimu selama kamu berpuasa.

Jangan pamer. Jangan transaksional. Fokus pada melepaskan kedagingan, bukan sekadar menahan makanan.

Dan satu hal: jangan nekad sampai membahayakan diri. Tubuh manusia butuh air. Lebih dari 3 hari tanpa minum bisa menyebabkan dehidrasi parah. Tuhan nggak butuh kamu jatuh pingsan untuk membuktikan keseriusanmu.

Penutup: Kamu Sedang Puasa, atau Cuma Lapar?

Aku masih melakukan intermittent fasting sampai hari ini (16:8 tiap hari, dan 1x seminggu kasih jatah 40 jam water fasting).

Dan secara fisik, manfaatnya nyata. Metabolisme fleksibel. Dapat manfaat Autophagy. Tubuh lebih sehat.

Tapi aku nggak lagi menyebutnya “puasa” dalam pengertian yang lama.

Karena puasa sejati bukan soal perut kosong. Puasa sejati soal hati yang dikosongkan (dari ego, dari nafsu, dari kesombongan) supaya ada ruang untuk diisi oleh Tuhan.

Kamu bisa nggak makan seharian, tapi kalau hatimu tetap penuh amarah, itu bukan puasa.

Kamu bisa lapar sampai lemes, tapi kalau motivasimu cuma supaya dipuji orang, Tuhan bilang: “Kamu sudah dapat upahmu.”

Jadi pertanyaannya bukan “sudah berapa hari kamu puasa?”

Pertanyaannya adalah: “Apa yang sedang kamu laparkan?”

Kalau jawabannya cuma makanan, kamu belum berpuasa.

Tapi kalau jawabannya adalah kedaginganmu, egomu, keinginanmu untuk selalu benar, keinginanmu untuk dipuji…

Itu baru puasa yang menggerakkan tangan Tuhan.

Dan buat temen-temenku Muslim yang lagi menjalani Ramadan, selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga bulan ini bukan cuma soal menahan lapar, tapi soal melaparkan hal-hal yang lebih dari sekadar makanan.

Buat temen-temenku Kristen yang lagi di masa Prapaskah, ini momen yang tepat. Bukan cuma untuk menahan sesuatu, tapi untuk bertanya: apa yang sebenarnya perlu aku lepaskan?

Karena pada akhirnya kehidupan spiritual bukan tentang apa yang kita peroleh, melainkan apa yang kita lepas dan serahkan.

Oke itu saja hari ini.

Akhir kata:
Terus belajar. Terus bergerak. Terus berserah.

Sampai jumpa Sabtu depan ya.

– Wigo SP


Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi semata. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat profesional di bidangnya. Pembaca disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli terkait sebelum menerapkan informasi yang diberikan. Penulis tidak bertanggung jawab atas tindakan yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini.


SUbscribe & temukan ide baru untuk self-growth

Setiap Sabtu pagi, kamu akan mendapatkan insight untuk hidup lebih sehat dan produktif! Join sekarang dan dapatkan Free Email Course: 6 Days to Reset Habits!