Tentang attachment, validasi, batasan sehat, dan kenapa kedamaian dimulai dari akar yang gak kelihatan.
Pernah gak kamu minta maaf sama orang, padahal sebenarnya kamu gak ngerasa bersalah?
Bukan karena kamu sadar udah ngelakuin kesalahan. Bukan juga karena kamu pengen nyelesaiin masalah.
Tapi karena kamu takut orang itu pergi.
Aku pernah.
Dulu, kalau aku udah deket sama orang, pas dia marah dikit aja, refleks pertamaku adalah minta maaf.
- “Maafin aku ya.”
- “Jangan marah dong.”
- “Jangan pergi.”
Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, itu lucu juga.
Mulutku bilang, “Maaf,” tapi di dalam kepalaku sebenernya cuma bilang: “Please, jangan tinggalin aku.”
Dan ternyata itu bukan cinta yang sehat. Itu ketakutan yang dibungkus dengan cinta.
Aku baru sadar bedanya antara meminta maaf karena sadar salah dengan meminta maaf karena takut ditinggalin.
Dari luar kelihatannya sama. Tapi akarnya berbeda.
Dan semakin aku belajar tentang diri sendiri, aku mulai sadar kalau banyak masalah dalam hubungan manusia sebenarnya bukan dimulai dari apa yang kita lakukan.
Masalahnya dimulai dari kenapa kita melakukan itu.
I – Kita Sering Sibuk Memperbaiki Buah, Padahal Akarnya Busuk
Bayangin kalau kamu mau nanam pohon mangga, kamu gak bisa berharap keluar buah mangga kalau benih yang kamu tanam bukan mangga.
Kedengerannya sederhana.
Tapi anehnya kita sering lupa prinsip ini ketika berhadapan dengan diri sendiri.
Kita terlalu fokus memperbaiki “buah”.
- Gimana biar gak toxic.
- Gimana biar gak insecure.
- Gimana biar gak gampang marah.
- Gimana biar hubungan awet.
- Gimana biar orang lain menghargai kita.
- Gimana biar pasangan gak pergi.
- Gimana biar jadi orang peka.
Padahal bisa jadi masalah sebenarnya itu jauh lebih dalam.
Akar kita masih mencari penerimaan dari luar diri kita.
Makanya buahnya muncul dalam berbagai bentuk.
- Kita jadi people pleaser.
- Kita takut bilang tidak.
- Kita terlalu banyak menjelaskan diri sendiri ke orang lain.
- Kita sulit menerima kritik.
- Kita gampang tersinggung ketika ditolak.
- Kita playing victim.
- Kita gosipin orang lain biar ngerasa lebih baik.
- Atau dalam hubungan percintaan, kita rela ngorbanin batasan diri sendiri cuma biar hubungan itu gak berakhir.
Buahnya kelihatan berbeda-beda.
Tapi akarnya sama:
“Aku takut kalau aku gak diterima, berarti aku gak berharga.”
Dan selama keyakinan itu masih hidup di dalam diri kita, memperbaiki perilaku satu per satu cuma akan jadi pekerjaan tambal sulam.
Kita mungkin berhasil kelihatan lebih baik.
Tapi belum tentu jadi lebih sehat.
II – Kenapa Kita Bisa Segitunya Takut Ditinggalin?
Di psikologi ada konsep yang namanya attachment theory.
Gampangnya, teori ini jelasin kalau pengalaman ikatan emosional kita sejak bayi berpengaruh ke cara kita memahami kedekatan, rasa aman, dan hubungan dengan orang lain.
Bukan berarti semua perilaku kita hari ini bisa dijelasin cuma dari kebiasaan masa kecil.
Tapi konsep ini bantu kita memahami kalau:
Cara kita berhubungan dengan orang lain sering kali bukan cuma tentang orang yang ada di depan kita.
Kadang kita lagi bereaksi terhadap sesuatu yang jauh lebih lama tertanam dalam diri kita.
Makanya ada orang yang kalau pasangannya telat dikit aja buat bales chat, langsung mikir aneh-aneh:
- “Dia udah gak sayang.”
- “Dia pasti berubah.”
- “Jangan-jangan dia selingkuh.”
- “Aku salah apa?”
Padahal faktanya cuma orang itu belum bales chat. Tapi otaknya udah buat macem-macem skenario.
Kenapa bisa gitu?
Karena yang terjadi itu gak cuma mereaksi kondisi hari ini aja, tapi ada sinyal rasa gak aman yang aktif dalam dirinya.
Dan ini juga alasan kenapa orang bisa ngelakuin sesuatu yang sebenernya gak sesuai dengan value dirinya sendiri.
Dia tau hubungan itu gak sehat. Dia tau ini udah di luar batasannya.
Tapi pas hubungan itu hampir berakhir, dia panik. Akhirnya dia yang ngalah.
Dia yang minta maaf. Dia yang kejar-kejar dan ngemis-ngemis.
Bukan karena dia bener-bener pengen pertahanin hubungan yang lebih sehat. Tapi karena otaknya menganggap kalau kehilangan hubungan = ancaman.
Dan di fase itu, kita mulai kehilangan diri sendiri.
Masalahnya, kadang kita menganggap ini terjadi karena kita terlalu sayang.
Padahal bisa jadi bukan karena kita terlalu sayang sama dia.
Kita terlalu sayang sama rasa aman yang udah jadi kebiasaan.
Sampai akhirnya, tanpa sadar, kita ngerasa punya kuasa buat menahan seseorang biar gak pergi dari hidup kita.
Dan gak jarang jadi muncul kalimat ini:
“Kita kan udah mulai dari nol sama kamu. Masa kamu gampang banget mau pergi?”
Padahal sesayang apapun kita sama seseorang, kita tetep gak punya hak buat nentuin apakah dia harus stay atau pergi.
Dan disinilah aku mulai ngeliat bedanya antara kasih sayang dan ketergantungan.
Kasih sayang masih bisa bilang, “Aku pengen kamu tetep ada disini, tapi aku gak maksa kamu kalau mau pergi.”
Sedangkan ketergantungan bilang, “Kamu harus tetep disini, karena aku gak tau gimana lagi caranya hidup kalau kamu pergi.”
Yang pertama masih punya kasih sayang, tapi juga punya batasan jelas.
Yang kedua mulai kehilangan batasan karena terlalu takut kehilangan.
Itulah kenapa menurutku batasan sehat itu gak cuma sekedar menghargai perbedaan pendapat.
Batasan sehat dimulai dari keyakinan kalau misal orang ini gak bisa sama aku seumur hidup, aku bakalan tetep bisa hidup.
Terus muncul pertanyaan yang lebih dalam.
“Kalau aku udah gak dipilih, apakah aku masih berharga?”
Jawabannya, tergantung.
Kalau value-mu masih ditentuin sama respons orang lain, hidupmu jadi kayak harga saham.
- Naik kalau dipuji.
- Turun kalau dikritik.
- Naik kalau chat dibales cepet.
- Turun kalau dicuekin.
Dan ini gak cuma terjadi dalam relationship.
Aku sendiri menyadari kalau kebutuhan validasi-ku selama ini cuma berpindah-pindah tempat aja.
Dulu bisa dari relationship. Terus pindah ke musik. Pindah lagi ke bentuk fisik. Pindah lagi ke performa konten.
Bentuknya berubah. Tapi polanya sama.
Aku masih ngerasa pengen dipilih.
Tulisan sebelumnya yang aku buat tentang “dunia gak milih kamu” sebenernya udah bahas bagian ini cukup dalam.
Intinya kalau validasi dari luar menjadi syarat utama kebahagiaan, hidup kita ikut cuma naik turun mengikuti sesuatu yang gak bisa kita kontrol.
Tapi setelah aku renungin lagi, ternyata ada satu level yang lebih dalam.
Pertanyaannya bukan cuma:
“Gimana biar aku berhenti mencari validasi?”
Tapi:
“Kalau aku berhenti mencari validasi, dari mana rasa amanku berasal?”
Karena kalau sumbernya gak diganti, kita cuma terus berhenti mengejar satu bentuk validasi dan pindah mengejar bentuk validasi yang lain.
Ini alasan kenapa aku pakai analogi akar dan buah. Karena akar gak kelihatan. Tapi kita bisa ngelihat buahnya.
Dan kita gak bisa langsung ngeliat apa yang terjadi di dalam tanah.
Manusia juga kayak gitu. Orang bisa terlihat sangat sukses.
- Punya karir bagus.
- Punya pasangan.
- Punya followers.
- Punya badan bagus.
- Punya uang.
- Punya keluarga.
- Punya pencapaian.
Tapi kita gak pernah tau apa yang sedang terjadi di dalam.
Bisa aja buahnya bagus. Tapi akarnya masih haus validasi.
Dan kalau akarnya masih bergantung ke sesuatu yang bisa hilang kapan aja, cepat atau lambat pohonnya pasti kelelahan.
Mungkin itu salah satu alasan kenapa orang tetep bisa burnout setelah dapetin sesuatu yang selama ini dikejar.
Mereka terus ngira kalau penyebab semua masalahnya itu karena sesuatu yang belum mereka punya.
- Belum sukses
- Belum punya pasangan
- Belum punya uang
- Belum terkenal
Pas udah bisa dapetin semuanya, ternyata masalah itu masih ada.
Karena yang dicari sebenernya bukan sesuatu dari luar.
Yang dicari adalah rasa diterima dari dalam.
III – Damai Bukan Berarti Selalu Bahagia
Aku juga mulai bedain antara happy dengan damai.
Dulu aku pikir hidup yang baik adalah hidup yang membuatku sering ngerasa happy.
Tapi sekarang mindset-ku berubah.
Karena aku dulu bisa happy kalau ngelakuin hal-hal yang sebenernya merusak hidupku.
- Merokok bisa bikin happy.
- Doomscrolling bisa bikin happy.
- PMO bisa bikin happy.
- Gosip bisa bikin happy.
- Dipuji-puji juga bisa bikin happy.
Tapi semuanya punya satu kebiasaan yang sama: rasa happy-nya ini harus terus dikasih makan. Kalau berhenti, kita gelisah lagi.
Sedangkan damai itu beda.
Damai bukan berarti kamu gak pernah marah dan gak pernah sedih. Bukan berarti hidupmu selalu baik-baik aja.
Damai itu justru pas kamu lagi emosi tapi tetep bisa nahan diri tanpa harus diluapkan.
- Kamu marah, tapi masih bisa berpikir.
- Kamu kecewa, tapi gak langsung mecahin sesuatu.
- Kamu sedih, tapi gak harus cari pelarian.
- Kamu ditolak, tapi gak langsung menyimpulkan kalau dirimu gak berharga.
Kamu bisa berhenti sebentar. Merenung. Kasih ruang buat emosi itu berproses dalam diri.
Aku sendiri sekarang lagi latihan yang aku dapet dari mentorku. Jadi kalau lagi emosi langsung pause dulu sebentar terus tarik napas dalam-dalam sambil batin “Tuhan adalah gembalaku”, terus keluarin napas pelan-pelan sambil batin “Takkan kekurangan aku”.
Di beberapa kejadian pernah aku coba berhasil sih, tenangnya bisa lebih cepat. Tapi ya masih sering banyak lupanya, masih sering meluap emosinya. Karena ini butuh latihan terus, gak instan.
Di situ aku ngelihat pentingnya metakognisi. Kemampuan buat memproses pikiran kita sendiri.
Ini kelihatannya sepele. Tapi ada jarak kecil yang sangat penting antara trigger dan respons.
Dan di jarak kecil itulah kesadaran kita. Kita jadi punya pilihan, gak kayak robot yang otomatis gerak aja.
Masalahnya kita sering denger statement yang kayak gini:
“Tapi kan kalau emosi gak diluapkan jadi penyakit?”
Iya betul. Meluapkan emosi itu bikin lega, tapi cuma sesaat.
Dan kalau kita udah pinter ngeliat pola, apapun yang sesaat pasti malah bikin penyakit yang lebih parah di masa depan.
Menariknya, tempat yang paling sering menguji kedamaian ini bukan di sosmed, kantor, atau orang yang belum dikenal.
Tapi di keluarga sendiri. Karena keluarga adalah orang-orang yang udah melihat versi terburuknya kita.
- Mereka tau kebiasaan buruk kita.
- Mereka tau kesalahan kita.
- Mereka tau gimana bandelnya kita dulu.
Jadi pas orang lain mengkritik kita, mungkin kita masih bisa santai.
Tapi kalau orang tua atau keluarga yang nyeramahin kita apalagi nyentuh sisi kelemahan dan keburukan kita, otomatis kita langsung defensif.
Aku sendiri pernah gak bisa nahan emosi, tapi beberapa saat kemudian bisa dengan cepat berpikir:
“Ahh.. harusnya aku gak ngomong gitu ke bapak atau ke ibuk”
Dan di situ aku belajar sesuatu. Kalau kata mentorku, ini tandanya kamu level up.
Bertumbuh bukan berarti kamu gak pernah bereaksi sama sekali.
Bertumbuh berarti kamu semakin cepat sadar setelah bereaksi.
Dulu mungkin butuh tiga hari buat sadar. Sekarang tiga jam. Turun lagi tiga puluh menit. Mungkin bisa sampai lima menit.
Dan akhirnya suatu hari, sebelum mulutmu ngeluarin sesuatu, kamu bisa bener-bener pause sebentar. Dan mulai terbiasa mempraktikkan metakognisi dengan lebih baik.
Itu namanya proses.
Makanya aku gak terlalu percaya sama statement:
“Kalau kamu beneran tobat, pasti kamu gak akan pernah marah lagi.”
Menurutku itu gak realistis. Bahkan pemuka agama pun pasti masih bisa marah.
Kita manusia. Kita tetap punya ego. Tetap punya kelemahan.
Yang berubah adalah hubungan kita dengan semua itu.
IV – Kalau Fondasi Penerimaanmu Berasal dari Manusia, Kamu Akan Selalu Takut Kehilangan
Ini bagian yang sangat personal.
Aku bukan pastor atau pendeta. Aku bukan teolog. Aku juga gak menganggap diriku punya posisi buat menghakimi keyakinan orang lain.
Aku cuma bisa cerita dari apa yang aku pelajari dan alami sendiri.
Dalam iman Kristen yang aku pahami, ada satu konsep yang menurutku sangat kuat: penerimaan kita gak harus dimulai dari manusia.
“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” – Galatia 1:10
Aku nemuin rasa diterima itu dalam hubunganku dengan Tuhan. Dan justru karena itu, aku mulai bisa melihat manusia dengan lebih sehat.
Kalau sebelumnya aku berpikir:
“Kalau dia gak menerima aku, aku harus berubah biar dia bisa menerima aku.”
Sekarang aku mulai belajar:
“Kalau ada yang memang perlu aku perbaiki, aku akan introspeksi. Tapi penerimaan atau penolakan dia gak otomatis menentukan siapa diriku.”
Bukan berarti aku jadi kebal terhadap penolakan.
Tetap bisa sakit hati. Tetap bisa kecewa. Tetap bisa sedih.
Tapi penolakan gak lagi punya kekuatan yang sama buat nentuin identitasku.
Dan buat aku, itu perbedaan mindset yang bikin aku makin tenang.
- Aku gak lagi harus membuat semua orang menyukaiku.
- Aku gak harus selalu terlihat benar.
- Aku gak harus memenangkan semua argumen.
- Aku bahkan gak harus pertahanin semua hubungan.
Karena kalau fondasi identitasku udah gak di tangan manusia, kehilangan satu orang gak otomatis kehilangan seluruh diriku.
Tapi memahami semua ini bukan berarti aku langsung 180 derajat bisa berubah total.
Dan jujur, malah ini yang bikin aku lega.
Karena ini jadi bukti kalau kita manusia biasa. Kadang kita udah belajar banyak. Udah tau teorinya. Udah sadar polanya. Bahkan mungkin udah berdoa biar berubah.
Tapi besoknya kita masih ngulang lagi.
Terus kita mulai frustasi, “Kenapa sih kok polanya gini terus?”
Ternyata konflik antara apa yang kita tau dan apa yang tetap kita lakukan bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia.
Bahkan Rasul Paulus (penulis terbanyak dalam kitab perjanjian baru) pernah bicara soal konflik di dalam diri.
Jadi dia pengen ngelakuin sesuatu yang benar, tapi yang terjadi justru ngelakuin sesuatu yang gak dikehendaki dia.
Di Roma 7:15, dia menulis:
“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu, karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.”
Dan di Roma 7:20:
“Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.”
Aku suka bagian ini bukan karena jadi alasan buat membenarkan kesalahan.
Justru sebaliknya. Bagian ini membuatku sadar kalau:
Aku gak harus menganggap diriku udah paham semuanya cuma karena aku udah tau teori yang benar.
- Aku masih bisa jatuh.
- Aku masih bisa reaktif.
- Aku masih bisa salah bicara.
- Aku masih bisa haus validasi.
- Aku masih bisa takut ditinggalkan.
Tapi sekarang aku udah tau cara bangkitnya.
Aku bukan orang yang religius, aku bahkan gak aktif komunitas di gereja. Tapi cuma kesadaran yang diberikan Yesus yang paling masuk akal buat aku.
Sampai hari inipun aku masih sulit memahami. Aku udah bejat ngelakuin banyak dosa yang mungkin gak bisa terang-terangan aku ceritain di publik, tapi Tuhan tetep bisa sayang sama aku.
I dont understand it.. really.
V – Jadi, Gimana Cara Mulai Membentuk Batasan yang Sehat?
Coba mulai dari tiga hal sederhana ini.
1. Mulai dari membedakan: aku sedang introspeksi atau sedang takut ditolak?
Pas ada orang mengkritik atau menolak kita, jangan langsung nanya, “Gimana caranya biar dia bisa nerima aku lagi?”
Pause sebentar dan tanya ke diri sendiri:
“Apa memang ada sesuatu yang perlu aku perbaiki, atau aku cuma takut dia gak suka sama aku?”
Kalau emang salah, ya akui.
Kalau emang cara bicaranya bisa nyakitin orang, ya perbaiki.
Kalau emang ada kebiasaan buruk, ya belajar berubah.
Tapi setelah itu selesai.
Meskipun misalnya ada kebiasaan buruk yang selalu berulang dan susah diperbaiki. Inget tulisan dari Rasul Paulus tadi.
Jadi gak perlu terus menghukum diri sendiri cuma karena ada orang kecewa sama kita.
Introspeksi membuat kita bertumbuh. Ketakutan membuat kita terus mengejar validasi.
Sekilas kelihatannya sama, tapi akarnya berbeda.
2. Belajar menahan rasa gak nyaman tanpa langsung bereaksi
Ini menurutku yang paling penting.
Karena pola lama sebenarnya terjadi di jeda yang sangat kecil:
ditolak → cemas/marah → bereaksi.
Kamu sekarang mulai belajar mau memperpanjang jedanya.
ditolak → cemas/marah → berhenti → sadar → pilih respons.
3. Berani menerima konsekuensi dari batasmu
Ini yang paling susah.
Karena kadang setelah kamu udah bisa kasih batas, orang lain emang pergi. Dan kamu harus siap.
Bukan karena kamu gak peduli.
Justru karena kamu mulai sadar kalau pertahanin hubungan dengan ngorbanin seluruh hidupmu bukanlah hubungan yang sehat.
Jadi mungkin latihan paling simple adalah mulai membangun kembali hal-hal yang emang bisa dilakuin sendiri:
- olahraga
- belajar hal baru
- bikin bisnis kecil-kecilan
- berdoa
- berkarya yang bermanfaat
- punya waktu sendirian yang positif
- tetep jaga hubungan sama keluarga dan temen yang bisa support.
Jadi, kalau semakin utuh kehidupanmu, kehilangan 1 hal aja rasanya udah gak ngaruh lagi.
Penutup: Pada Akhirnya, Kita Semua Sedang Belajar Pulang ke Akar
Kayak yang udah aku bilang tadi, mungkin di hidup ini kita terlalu fokus memperbaiki buahnya. Memperbaiki sesuatu yang keliatan di mata kita.
Kita terlalu sibuk melihat:
- “Kenapa aku masih insecure?”
- “Kenapa aku masih toxic?”
- “Kenapa aku masih gampang marah?”
- “Kenapa aku masih takut kehilangan?”
- “Kenapa aku masih butuh validasi?”
Mungkin pertanyaannya perlu diganti jadi:
“Akar apa yang sedang menghasilkan semua ini?”
Karena kalau kita cuma sibuk memperbaiki perilaku di luar, tapi gak pernah melihat akar masalahnya, ya kemungkinan besar kita akan balik lagi ke pola yang sama.
Jadi kita sekarang coba belajar cari sesuatu yang lebih dalam yang belum selesai.
Dan menurutku perubahan emang seringnya kayak gitu. Dia gak kelihatan.
Kita pengennya langsung kelihatan hasilnya. Langsung jadi orang yang lebih tenang. Langsung gak overthinking. Langsung bisa punya batasan yang sehat. Padahal semuanya butuh proses.
Aku sendiri juga masih belajar.
Tapi bedanya, sekarang aku bisa membiasakan diri buat zoom out dan berhenti sebentar.
- “Kenapa aku ngelakuin ini?”
- “Apa ini emang perlu diperbaiki?”
- “Atau aku cuma takut orang ini pergi?”
Dan skill buat bisa berhenti sebentar, itungannya itu udah naik level.
Karena dulu mungkin aku bisa bodo amat ngelakuin kebiasaan buruk semauku sendiri, tapi sekarang bisa ‘ngerem’ aja itu udah bagus.
Tapi hidup tenang dan damai bukan berarti gak ada masalah.
Namanya hidup pasti ya ada aja masalahnya.
Bedanya, kita gak harus langsung hancur cuma karena sesuatu di luar diri kita berubah. Kita udah bisa gak terlalu peduli dengan situasi atau kondisi yang ada di sekitar kita.
Aku nemuin fondasi itu dalam iman yang sekarang aku pilih secara sadar. Walaupun hidup berantakan, tapi dengan iman kita bisa yakin ending-nya pasti baik.
Aku masih belajar memahami Tuhan. Dan aku yakin gak bakalan bisa dipahami. Tapi justru di situ yang bikin kita belajar rendah hati, gak jadi sombong seolah-olah mengetahui segalanya.
Belajar spiritual itu bukan soal kita mencari jawaban, tapi kita menyerahkan semuanya kepada yang udah pasti tau jawabannya.
Oke itu aja hari ini.
Terima kasih udah baca sampai akhir.
Terus belajar. Terus bergerak. Terus berserah.
— Wigo SP
Disclaimer: Aku bukan dokter, psikolog, atau ahli terapi. Semua yang aku tulis di sini berasal dari pengalaman pribadi dan bacaan yang aku lakukan sendiri. Kalau kamu lagi bergumul sama masalah yang lebih serius, tolong cari bantuan profesional. Artikel ini cuma satu perspektif dari orang biasa yang lagi ada di perjalanan yang sama denganmu.




