Aku pernah di titik di mana aku buka dating app 3 kali sehari.
Pagi sebelum kerja. Siang pas istirahat. Malam sebelum tidur.
Swipe kanan, swipe kiri, match, chat, ghosting, ulangi lagi.
Setiap hari kayak kerja sampingan yang gak dibayar.
Dan yang paling ironis: makin banyak pilihan, makin kosong aku ngerasanya.
100 profil dilihat dalam semalam. 5-10 match dalam seminggu. Tapi gak ada satu pun yang beneran nyambung dan “klik”. Semuanya berhenti di level “eh kita suka film yang sama” atau “wah kita sama-sama suka olahraga.”
Aku pikir aku kesepian karena gak punya pasangan.
Ternyata bukan itu masalahnya. Sama sekali bukan.
Dan ini cerita soal bagaimana aku akhirnya paham apa itu kesepian, kenapa dating apps gak akan pernah bisa menyelesaikannya, dan apa yang akhirnya pelan-pelan mulai mengubah cara pandangku tentang relasi atau hubungan.
Kesepian yang Aku Pikir Bisa Diselesaikan oleh Orang Lain
Aku gak tau kapan tepatnya aku mulai ngerasa kesepian.
Mungkin setelah band bubar dan temen-temen yang aku pikir akan selalu ada ternyata jalan ke arah masing-masing.
Mungkin setelah hubungan yang gagal dan aku sadar orang yang aku percaya ternyata gak bisa menanggung semua harapanku.
Mungkin juga setelah bertahun-tahun main game di kamar + jadi anti sosial dan baru sadar aku gak punya orang yang beneran kenal siapa aku di luar layar komputer.
Yang aku tau: ada kekosongan. Dan aku pikir kekosongan itu harus diisi oleh orang lain.
Jadi aku cari terus.
Install dating app. Bikin profil sebagus mungkin. Foto paling keren. Bio paling menarik. Swipe. Match. Chat. Ketemuan. Gak cocok. Ulang lagi.
Dan dating apps itu pintar banget. Mereka bilang: “Kita cariin orang yang minat-nya sama kayak kamu.”
- Suka olahraga? Nih ada yang suka olahraga juga.
- Suka kopi? Nih ada yang suka kopi juga.
- Suka film horror? Perfect match.
“Same interest.” Dan aku percaya itu.
Aku pikir: kalau kita punya minat yang sama, pasti nyambung. Pasti cocok. Pasti bisa jadi sesuatu.
Tapi kenyataannya? Orang yang minatnya sama persis sama aku justru yang paling cepat terasa hambar. Karena gak ada gesekan. Gak ada perspektif baru. Gak ada sesuatu yang bikin aku mikir “wah, aku gak pernah liat dari sisi itu.”
Dan aku mulai sadar sesuatu yang dating apps gak akan pernah bilang ke kamu:
Keindahan hubungan itu bukan di kesamaan. Tapi di perbedaan.
Dua orang yang sama persis itu kayak dua cermin yang saling berhadapan, yang keliatan cuma refleksi sama berulang-ulang. Gak ada yang baru. Gak ada yang bertumbuh.
Tapi dua orang yang berbeda dan saling menghormati perbedaan, di situ ada pertumbuhan. Di situ ada keindahan yang gak bisa kamu temuin di profil dating app manapun.
Tapi itu baru masalah pertama.
Masalah yang lebih dalam adalah aku bukan cuma cari pasangan. Aku cari seseorang yang bisa mengisi kekosongan di dalam diriku. Seseorang yang bikin aku ngerasa “aku cukup”. Seseorang yang bisa jadi fondasi hidupku.
Dan itu beban yang gak seharusnya ditanggung manusia manapun.
Sementara itu, tanpa aku sadari, kesehatanku juga kena imbasnya.
Ini yang jarang orang tau, WHO udah nyatakan kesepian sebagai ancaman kesehatan global. Ini aku gak ngarang. Ini data.
Efek kesepian ke tubuh:
- Setara dengan merokok 15 batang sehari
- Naikin risiko penyakit jantung
- Melemahkan sistem imun
- Mempercepat penuaan sel
- Memperbesar kemungkinan depresi
Kesepian itu bukan cuma perasaan. Itu racun yang pelan-pelan menghancurkan tubuhmu dari dalam.
Dan aku hidup di racun itu bertahun-tahun, sambil mikir solusinya cuma “cari orang yang tepat.”
Padahal orang yang tepat pun gak bisa mengisi kekosongan yang emang bukan tugasnya.
Saat Aku Sadar Ini Bukan Soal Nemuin Orang yang Tepat
Ada satu malam yang aku ingat.
Habis uninstall dating app untuk kesekian kalinya. Rebahan di kasur. HP di tangan tapi gak tau mau buka apa. Dan tiba-tiba rasa kesepian itu dateng, aku ngerasa gak ada yang peduli sama aku ada atau nggak di dunia ini.
Di momen itu aku nanya ke diri sendiri: kenapa aku segitu desperate-nya?
Jawabannya gak langsung dateng. Tapi lama-lama aku mulai liat polanya.
Aku gak cuma cari pasangan. Aku cari seseorang yang bisa bilang ke aku: kamu cukup. Kamu layak. Kehadiranmu berarti.
Setiap swipe itu sebenernya cuma satu pertanyaan yang sama: “ada gak sih yang terima aku apa adanya?”
Dan itu yang paling sakit, sadar kalau aku gak cari cinta. Aku cari bukti kalau aku gak seburuk yang aku kira.
Blaise Pascal, filsuf Prancis abad ke-17, pernah bilang:
“Semua masalah manusia berasal dari ketidakmampuannya duduk diam sendirian di dalam ruangan.”
Sempet mikir kalau itu omong kosong.
Ngapain ya kan duduk diam gak ngapa-ngapain? aneh banget.
Sekarang aku ngerti: aku gak bisa duduk diam sendirian, karena kalau diam, rasa kekosongan itu makin bikin aku gak nyaman. Jadi aku swipe. Aku scroll. Aku cari distraksi. Apapun supaya gak harus duduk diam sama kesepian itu.
Bahkan kalau aku nemuin orang yang terasa cocok pun, aku tau perasaan itu gak akan bertahan. Karena validasi dari manusia itu kayak megang air di tangan: sebanyak apapun kamu tampung, pasti tetap bocor. Besok orang itu bisa berubah pikiran. Besok orang itu bisa pergi.
Dan kamu kembali ke titik nol. Sendirian lagi. Kosong lagi. Swipe lagi.
Di titik itu aku mulai belajar sesuatu yang gak pernah aku sangka akan mengubah segalanya.
Aku mulai membangun relasi sama Tuhan.
Bukan karena disuruh. Bukan karena putus asa terus lari ke agama. Tapi karena semua pintu udah aku coba: band bubar, sempet pengen jadi Personal Trainer, gonta-ganti pasangan, sampai konsisten bikin konten kayak gini, tetap aja kosong. Dan gak ada manusia yang bisa jawab kekosongan itu. Termasuk diriku sendiri.
Sampai suatu titik, algoritma sosial mediaku mulai bergeser ke konten spiritual. Dan aku nemu seorang hamba Tuhan yang cara dia ngomong soal iman langsung ngena. Jujur, 32 tahun aku Kristen yang asal rajin ke gereja, bisa dibilang suam-suam kuku lah. Tapi ternyata Tuhan nemuin aku lewat tempat yang paling gak aku sangka: internet.
Udah sekitar setahun ini aku pelan-pelan mulai ngerti apa yang selama ini sebenernya aku percaya.
Ada satu ayat yang dia share (yang juga mengubah hidupnya dari seorang gang member), dan akhirnya juga mengubah cara aku melihat diriku sendiri:
“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (Ibrani 10:14)
Ayat ini gak berubah. Tapi cara dia breakdown ayat ini yang mengubah sikap hatiku sepenuhnya.
Sebelum dengerin hamba Tuhan itu, aku hidup dari narasi:
- “Aku harus nemuin seseorang dulu baru aku ngerasa lengkap.” (karena kalau kata Dewa 19 kan separuh nafasku)
- “Aku harus punya pasangan dulu baru aku ngerasa cukup.”
- “Aku harus divalidasi dulu baru aku ngerasa layak.”
Tapi ayat itu bilang sebaliknya: kamu udah disempurnakan. Bukan oleh pasangan. Bukan oleh match di dating app. Bukan oleh berapa orang yang swipe kanan ke kamu. Tapi oleh sesuatu yang sudah selesai dikerjakan, bahkan jauh sebelum kamu lahir.
Dan saat aku beneran meresapi itu, sesuatu bergeser di dalam.
Aku berhenti cari validasi. Bukan karena tiba-tiba percaya diri. Tapi karena pertanyaan “apakah aku cukup?” itu udah dijawab dan jawabannya bukan dari manusia.
Aku tau gak semua orang yang baca ini punya kepercayaan yang sama. Dan aku sepenuhnya menghormati itu. Aku gak akan pernah memaksakan apapun ke siapapun, itu bukan cara aku hidup dan bukan cara aku menulis.
Semua perjalanan spiritual itu personal. Aku cuma bisa cerita yang aku alami sendiri.
Dan aku juga gak bisa pura-pura bahwa ini gak mengubah hidupku. Karena ini yang akhirnya menjawab kesepian yang gak pernah bisa dijawab oleh dating app manapun.
Menurut kepercayaanku, Tuhan itu sumber dari hubungan itu sendiri. Bukan cuma “yang ngasih jodoh”, tapi sumber dari kemampuan manusia untuk terhubung satu sama lain. Dan kalau kamu terputus dari sumbernya, wajar kalau semua hubungan yang kamu bangun terasa gak pernah cukup.
Ibarat kamu butuh dioperasi biar sembuh total, tapi yang kamu minta painkiller. Cuma bisa bantu sementara, dan jadi ketergantungan sama obat.
Yang Berubah Saat Aku Berhenti Mencari dan Mulai Hadir
Hidupku gak tiba-tiba berubah drastis.
Aku masih sendirian secara status. Masih proses. Masih sering ada momen ngerasa sepi, bahkan kadang di tengah keramaian.
Tapi sesuatu yang fundamental berubah.
Ini yang diajarkan mentor spiritualku: kesendirian yang bermakna bukan soal menghindar dari orang. Tapi soal balik ke sumber, supaya waktu kamu hadir buat orang lain, kamu datang dari tempat yang penuh, bukan kosong.
Dan itu persis yang aku alami. Bukan ganti orang. Tapi ganti sumber.
Ini yang bergeser:
Dulu: Aku menjalani hubungan dari kekurangan: “aku butuh kamu buat bikin aku utuh.”
Sekarang: Aku belajar dari kepenuhan: “aku udah mulai utuh, dan aku mau berbagi itu sama kamu.”
Dulu: Sendirian = sepi. Harus segera diisi oleh siapapun.
Sekarang: Sendirian = hadir. Dan dari kehadiran penuh makna itu, koneksi yang tulus justru lebih mudah terbentuk.
Dulu: Cari orang yang bikin aku ngerasa cukup.
Sekarang: Udah mulai cukup dan baru dari situ bisa bersosialisasi tanpa butuh validasi dari mereka.
Dampaknya ke hubungan:
- Orang yang datang dari kekurangan → selalu menuntut, selalu takut ditinggal, selalu ngerasa gak cukup. Hubungannya berat.
- Orang yang datang dari kepenuhan → gak menuntut, gak takut kehilangan secara berlebihan, gak butuh validasi terus-menerus. Hubungannya ringan.
Dan dari semua yang gak konsisten di hidupku (band bubar, relationship gagal, sempet jalanin beberapa bisnis tapi gak jalan) aku selalu balik lagi ke angkat beban.
Selalu.
Tapi justru dari situ aku belajar sesuatu: dulu cuma fokus ke goal fisik (sixpack, badan ideal, biar disukai orang), tapi endingnya tetap aja ngerasa kosong. Aku pernah sampai di titik itu. Dan rasanya biasa aja, gak se-excited pas aku jalanin prosesnya. Ini juga bisa jadi alasan kenapa orang bisa gampang banget balik gendut lagi setelah program dietnya selesai.
Yang beneran berubah bukan pas secara fisik badanku berubah. Tapi pas aku akhirnya punya meaning yang lebih besar dari sekadar penampilan.
Latihan beban ngajarin aku disiplin, konsisten, sabar. Tapi kepenuhan itu sendiri, datangnya dari tempat lain.
Dan aku tetap percaya: menjaga tubuh itu yang pertama kali membuka kesadaranku ke hal-hal yang lebih dalam. Karena kalau kesehatan fisik dan mentalku berantakan, aku gak akan punya ruang untuk mikirin hal yang jauh lebih penting dari itu.
Tubuh itu pintu masuk. Bukan tujuan akhir.
Dan dari fondasi itu, sekarang aku bisa membangun hubungan sama orang lain bukan dari tempat kekurangan, tapi dari tempat kepenuhan.
Aku juga belajar satu hal lagi soal hubungan yang gak pernah diajarkan dating apps:
Yang bikin hubungan indah bukan kesamaan, tapi keberanian untuk menghormati perbedaan.
Dating apps jualan “same interest” karena itu yang paling gampang dijual. Tapi hubungan yang beneran bertumbuh itu justru yang penuh perbedaan: di mana dua orang yang gak sama, belajar saling dengerin, saling menghormati, dan saling melengkapi.
Itu gak bisa diukur pakai algoritma. Gak bisa ditemuin lewat swipe. Itu cuma bisa dibangun: face to face, pelan-pelan, jujur-jujuran, dan berasal dari kepenuhan tadi.
Yang Aku Pelajari
Kesepian itu bukan soal gak ada orang di sekitarmu. Kesepian itu soal terputus: dari dirimu sendiri, dari sumber hubungan itu sendiri, dan dari kehadiran yang tulus buat orang terdekat.
Dating apps gak akan pernah bisa menyelesaikan kesepian yang akarnya di dalam. Karena masalahnya bukan gak ada pilihan, masalahnya kamu cari sesuatu di tempat yang salah.
Dan “orang yang tepat” gak akan pernah bisa mengisi kekosongan yang seharusnya gak ditanggung manusia manapun.
Yang mengubah segalanya buat aku bukan nemuin orang yang tepat. Tapi tiga hal ini:
- Membangun relasi sama Tuhan: sumber dari hubungan itu sendiri. Bukan aturan beragama. Tapi relasi.
- Belajar hadir di tubuhku: bukan buat goal fisik aja, tapi karena dari situlah kesadaranku mulai terbuka.
- Datang ke hubungan dari kepenuhan, bukan kekurangan: bukan “aku butuh kamu” tapi “aku mau berbagi hidupku sama kamu.”
Dan urutannya gak bisa diacak. Tanpa relasi sama sumber, kepenuhan itu gak ada. Tanpa kepenuhan, kamu datang ke setiap hubungan dengan tangan terbuka minta diisi dan gak ada manusia yang bisa mengisi itu selamanya.
Kalau kamu lagi di titik yang sama kayak aku dulu: swipe sebelum tidur, ngerasa makin kosong karena makin banyak pilihan, jadi sering nanya ke diri sendiri “kenapa aku hidup di dunia ini, ada gak sih yang sayang sama aku?”
Aku gak akan bilang “sabar ya” atau “nanti juga ketemu sendiri jalannya.”
Karena aku tau itu gak membantu.
Yang aku bisa bilang: mungkin kesepianmu bukan sinyal bahwa kamu butuh orang lain.
Mungkin itu sinyal bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang lagi manggil kamu pulang.
Dan mungkin, pulangnya bukan ke orang lain. Tapi ke tubuhmu yang udah lama nunggu kamu hadir. Dan ke Sang sumber yang udah lama menunggu kamu berhenti cari di tempat yang salah.
1 Habit yang Bisa Kamu Mulai dari Artikel Ini:
Minggu ini, sengaja sediain 30 menit setiap hari TANPA DISTRAKSI. Bukan sambil scroll. Bukan sambil nonton.
Beberapa contoh aktivitasnya:
- Latihan beban tanpa HP
- Jalan kaki tanpa HP
- Makan tanpa HP
- Ngobrol sama keluarga tanpa HP
- Baca Kitab Suci sesuai agama masing-masing, atau baca buku filosofi
- Nulis/journaling
- Duduk diam, meditasi, atau berdoa
Dan perhatikan: apa yang muncul di kepala kamu pas gak ada distraksi sama sekali?
Kalau kamu relate sama artikel ini atau mau share apa yang muncul di kepalamu pas coba habit ini, DM aja ke semua sosial mediaku @wigosp. Atau kirim email ke info@sixdayshabits.com. Pasti aku baca semua.
Oke, itu aja hari ini.
Terimakasih udah baca sampai akhir.
Terus belajar. Terus bergerak. Terus berserah.
Sampai jumpa Sabtu depan.
— Wigo SP
Referensi:
Loneliness and isolation – the hidden threat to global health we can no longer ignore
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi semata. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat profesional di bidangnya. Pembaca disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli terkait sebelum menerapkan informasi yang diberikan. Penulis tidak bertanggung jawab atas tindakan yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini.



