Hari ini aku mau sedikit curhat.
Ini bukan soal fitness atau nutrisi seperti biasanya. Tapi ini masih sangat berhubungan dengan kesehatan, cuma dari sudut yang jarang dibahas.
Soal energi. Soal memberi batasan. Soal gimana caramu berinteraksi dengan orang lain ternyata bisa mempengaruhi kondisi fisikmu.
Dan ini sangat personal buat aku.
Dulu Aku Sering Bilang “Iya”
Dulu aku ngerasa gak punya pendirian. Hidup ngalir aja.
Diajak nongkrong, ayo. Diminta bantuin ini itu, siap. Hampir gak ada filter sama sekali.
Padahal sering kali capek. Padahal tau ada hal lain yang lebih penting. Tapi yang keluar dari mulutku?
“Oke, gas.”
Ini bukan sekali dua kali. Ini bertahun-tahun.
Dari luar, aku keliatan kayak temen yang ideal. Gampang diajak. Gampang diminta bantuin ini itu. Gak pernah ribet.
Tapi dari dalam? Aku gak nyaman dengan diriku sendiri.
Yang aneh: ini cuma terjadi ke teman-temanku. Ke keluarga sendiri, aku malah cuek.
Dan justru itu yang bikin aku sadar. Ini bukan soal kebaikan. Ini soal pencitraan.
Seluruh energiku habis buat nyenengin orang di luar rumah. Buat terlihat baik. Buat jadi orang yang “nggak enakan”.
Pas pulang ke rumah, yang tersisa cuma sikap cuek. Energi sudah habis di luar. Keluarga cuma dapet sisanya.
“Orang Baik” yang Sebenarnya Pengecut
Bodohnya, aku dulu pikir ini hal yang positif. Menyenangkan orang lain, selalu ada untuk teman, gak pernah mengecewakan siapapun, bukannya ini emang yang diajarkan sebagai sifat terpuji?
Ternyata aku salah.
Dalam proses mendalami makna hidup, aku menemukan perspektif yang langsung nancep di otakku:
Menyenangkan semua orang itu bukan hal positif. Itu ego yang menyamar.
Aku sering bilang “iya” bukan karena bener-bener mau. Aku bilang “iya” karena takut terlihat jelek di mata orang lain. Takut dicap temen gak asik. Takut kehilangan validasi.
Ini bukan ketulusan. Ini cuma cara paling licik untuk menjaga citra diri.
Aku kira aku lagi baik sama orang lain. Ternyata aku sedang melindungi egoku agar tetap terlihat sempurna.
Dan itu, kalau dipikir-pikir, adalah bentuk keegoisan yang paling susah diakui.
Tubuh Gak Bisa Dibohongi
Mungkin kamu pikir people pleasing cuma masalah mental. Cuma urusan perasaan. Cuma masalah “gak enak hati”.
Tapi tubuh gak bisa dibohongi.
Tiap kali aku bilang “iya” padahal pengen bilang “nggak”, ada sesuatu yang terjadi di dalam. Rasa gak nyaman yang menumpuk dan energi yang bocor tanpa aku sadari.
Ini bukan sekadar perasaan.
Ketika kamu jadi orang yang selalu tersedia untuk semua orang, tubuhmu membaca itu sebagai ancaman yang gak pernah selesai.
Kortisol (hormon stres) naik terus-menerus. Sistem sarafmu gak pernah benar-benar istirahat. Recovery terganggu. Kualitas tidur menurun.
Kamu mungkin gak merasa “stres” dalam pengertian kayak gak ada deadline yang ngejar, atau gak ada bos yang marah-marah. Tapi tubuhmu tetap membaca situasi sebagai ancaman. Karena secara psikologis, kamu terus-menerus dalam mode bertahan: menjaga citra diri, menghindari konflik, dan memastikan semua orang senang.
Dan apa yang terjadi kalau tubuh dalam mode bertahan terus-menerus?
Kelelahan yang gak bisa dijelaskan. Bangun tidur masih capek. Sore hari udah ngerasa tepar banget. Weekend kayak gak cukup buat recovery.
Aku dulu pikir ini karena kurang tidur. Atau kurang olahraga. Atau kurang vitamin.
Ternyata bukan.
Penyebabnya aku cuma terlalu banyak bilang “iya”.
Energi Itu Terbatas
Ada konsep dari Carl Jung tentang psychic energy: energi psikis yang kita punya untuk menjalani hidup. Jadi setiap pikiran, emosi, dan keputusan mengonsumsi energi ini.
Dan inilah yang jarang orang sadari: energimu terbatas.
Setiap kali kamu merespons chat yang sebenarnya gak perlu dijawab sekarang, itu konsumsi energi. Setiap kali kamu ikut nongkrong yang sebenarnya gak kamu nikmati, itu konsumsi energi. Setiap kali kamu menjelaskan sesuatu ke orang yang memang gak mau mengerti, itu juga konsumsi energi.
Dan kalau energimu habis untuk hal-hal yang gak penting, apa yang tersisa untuk hal-hal yang benar-benar penting?
Gak ada.
Makanya kamu selalu capek. Makanya kamu gak punya tenaga untuk hal-hal yang kamu sukai. Makanya weekend cuma buat “isi ulang energi” tapi Senin sudah kosong lagi.
Bukan karena hidupmu terlalu berat. Tapi karena energimu bocor ke orang yang salah.
Titik Balik
Perubahan ini gak terjadi dalam semalam.
Ada proses panjang di mana aku mulai mempertanyakan banyak hal. Tentang nilai-nilai spiritual yang aku pegang. Tentang kenapa aku melakukan apa yang aku lakukan. Tentang apa yang sebenarnya penting dalam hidup.
Dalam perjalanan spiritual itu, aku menemukan satu prinsip yang mengubah segalanya:
Memberi batasan bukan berarti memusuhi. Itu bentuk mengasihi, dengan jarak yang sehat.
Aku gak harus bilang “iya” untuk membuktikan bahwa aku teman yang baik. Aku gak harus “selalu ada” untuk membuktikan bahwa aku peduli. Aku gak harus mengorbankan kebutuhanku untuk menjaga perasaan orang lain.
Karena kalau aku sendiri kosong, apa yang bisa aku berikan?
Kalau aku kecapekan, kehadiran macam apa yang bisa aku tawarkan?
Kalau aku terus-menerus mengabaikan diriku sendiri, bagaimana aku bisa benar-benar hadir untuk orang lain?
Proses yang Gak Mudah
Aku mulai belajar bilang “tidak”.
Awalnya gak nyaman. Ada rasa bersalah yang muncul pas aku ngelakuinnya. Ada kekhawatiran dicap berubah, dicap sombong, dicap gak asik lagi, dicap aneh.
Dan beberapa kekhawatiran itu ternyata jadi kenyataan.
Ada satu orang yang cukup dekat, yang mulai menjauh ketika aku mulai berubah.
Bukan karena kami suka bertengkar. Tapi karena ketika aku mulai serius dengan nilai-nilai yang aku yakini (termasuk batasan yang aku bangun dari keyakinan spiritual, bukan dari ego), kami seperti berjalan di arah yang berbeda.
Dia bukan orang jahat. Aku juga gak mau menghakimi.
Awalnya sakit. Tapi lama-lama aku paham.
Kadang perpisahan bukan karena benci. Tapi karena dua orang sedang berjalan ke arah yang berbeda dan memaksakan kebersamaan justru jadi gak jujur buat keduanya.
Aku sempat takut hidupku jadi sepi. Sempat kepikiran perlu cepet-cepet cari gantinya.
Tapi lama-lama aku sadar, itu bukan solusi. Itu cuma cara lain untuk kabur dari kekosongan yang belum selesai aku isi sendiri.
Dan dari nilai-nilai yang aku temukan, aku belajar satu hal: sebelum bisa hadir untuk orang lain, aku harus selesai dulu dengan diriku sendiri.
Sekarang, lingkaran sosialku mengecil. Aku lebih bisa jadi apa adanya.
Dan ternyata, itu udah lebih dari cukup.
Badanku Berterima Kasih
Ini bagian yang paling melegakan.
Setelah aku mulai terbiasa menetapkan batasan, setelah aku berhenti jadi “selalu ada untuk semua orang,” perubahan fisiknya nyata.
Energi jadi lebih hemat. Bukan karena aktivitas berkurang, tapi karena energi gak bocor ke tempat yang salah. Aku bisa fokus ke hal-hal yang memang penting: olahraga, pekerjaan, keluarga, pendalaman spiritual, dan lain-lain.
Secara mental, aku berhenti overthinking soal hubungan dengan orang lain. Gak ada lagi drama di kepala kayak “dia marah gak ya?” atau “aku salah ngomong gak ya?” atau “mereka masih anggap aku temen gak ya?”
Fokusku kembali ke hal-hal yang seharusnya jadi prioritas. Hubungan dengan diri sendiri. Hubungan dengan nilai-nilai yang aku pegang. Hubungan dengan Tuhan, yang jauh lebih penting dari sekadar opini orang lain.
Dan dari situ, semuanya jadi lebih ringan.
Bukan karena hidup jadi lebih mudah. Tapi karena aku berhenti membuatnya lebih berat dari yang seharusnya.
Bukan Jadi Orang Jahat
Aku perlu klarifikasi sesuatu.
Menetapkan batasan bukan berarti jadi orang jahat. Bukan berarti gak peduli sama orang lain. Bukan berarti egois dalam pengertian negatif.
Justru sebaliknya.
Pas aku berhenti menyenangkan semua orang, aku akhirnya bisa benar-benar hadir untuk orang-orang yang penting.
Dulu, energiku tersebar ke mana-mana. Semua orang dapat sedikit, tapi gak ada yang dapat sepenuhnya.
Sekarang, aku bisa memberikan perhatian penuh ke orang-orang yang memang layak mendapatkannya. Keluarga. Temen-temen yang benar-benar peduli. Rekan kerja.
Lebih sedikit orang, tapi lebih banyak kehadiran yang nyata.
Itu bukan egois. Itu prioritas.
Penutup: Menetapkan Batasan Adalah Self Care yang Sering Diabaikan
Kita sering bicara soal self care.
Jalan-jalan. Liburan. Me time. Skincare routine. Nongkrong. Ngegame. Semua itu bagus sesuai porsinya.
Tapi ada satu bentuk self care yang sering diabaikan: kemampuan untuk bilang tidak.
Bilang tidak ke ajakan yang menguras. Bilang tidak ke hubungan yang cuma menguras energi. Bilang tidak ke ekspektasi orang lain yang gak sesuai dengan nilaimu.
Ini bukan sesuatu yang kejam. Ini soal menjaga diri.
Karena kamu gak bisa menuangkan dari gelas yang kosong. Kamu gak bisa hadir untuk orang lain kalau kamu sendiri udah kosong. Kamu gak bisa memberikan kebaikan yang tulus kalau kebaikanmu selama ini cuma topeng untuk menutupi ketakutan.
Jadi kalau kamu sekarang ada di posisi yang sama seperti aku dulu (sering bilang iya, sering kecapekan, sering ngerasa gak cukup) mungkin masalahnya bukan kamu kurang berusaha.
Mungkin kamu terlalu berusaha untuk orang yang salah.
Dan kadang, langkah pertama untuk jadi lebih sehat bukan menambah sesuatu ke hidupmu.
Tapi melepaskan atau mengurangi orang yang menguras hidupmu.
Oke itu aja hari ini.
Sampai jumpa Sabtu depan.
– Wigo SP
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi semata. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat profesional di bidangnya. Pembaca disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli terkait sebelum menerapkan informasi yang diberikan. Penulis tidak bertanggung jawab atas tindakan yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini.



