Kita semua hidup dengan aturan. Masalahnya, gak semua aturan hidup yang kita percaya pernah kita pertanyakan.
Baru aja hari Minggu kemarin, temen SMA-ku tiba-tiba ngajak nongkrong berdua. Katanya mau curhat banyak hal. (Btw, ini temen cowok ya.)
Aku iyain aja, soalnya aku sendiri pun udah jarang banget nongkrong.
Dan sebenernya aku gak kaget sih kenapa dia tiba-tiba ngajak ketemu. Soalnya selama kurang lebih satu bulan terakhir, tiap kali aku posting konten, dia selalu nge-like.
Mungkin emang lagi relate sama apa yang dia alami sekarang.
Akhirnya kami mutusin buat cari cafe deket rumahku aja.
Pas udah nyampe, kami ngobrol seperti biasanya. Sampai akhirnya dia mulai cerita.
Ternyata…kami berdua lagi ada di fase hidup yang mirip.
Sama-sama belum nikah.
Sama-sama ngerasa ketinggalan dari yang lain.
Dan sama-sama gampang galau kalau udah urusan cewek. Hahaha.
Jadi aku tau banget rasa kosong yang lagi dia alamin sekarang.
Parahnya, dia lagi ada di fase overthinking yang bikin susah tidur. Dia masih susah move on dari mantannya. Hubungannya sama keluarganya juga mulai menjauh.
Ditambah lagi, lingkungan sekitarnya (temen-temenku yang lain) lebih sering menghakimi daripada dengerin curhatannya.
Makanya dia relate banget sama konten-kontenku. Karena sekarang aku emang lagi belajar buat gak gampang menghakimi siapapun. Itu salah satu pelajaran paling berharga yang aku dapetin dari mentorku.
Nah, dilemanya…
Dia Muslim.
Aku Kristen.
Sedangkan perjalanan pemulihan mentalku sendiri aku temuin lewat iman Kristen. Jadi aku gak bisa asal ngasih saran yang lebih dalam soal iman, meskipun aku percaya itu yang paling mengubah hidupku.
Aku juga harus belajar menahan diri.
Karena kalau kata mentorku, kita ini bukan penyelamat. Biarkan Tuhan sendiri yang menyelamatkan.
Jadi selama dia cerita, tugasku cuma satu.
Mendengarkan.
Dan aku sambil berdoa dalam hati biar Tuhan sendiri yang bekerja di dalam hidupnya.
Aku sesekali cuma bisa kasih saran yang sifatnya lebih universal. Karena aku juga harus menghormati iman yang dia percaya.
Tapi justru dari obrolan itu, aku makin yakin sama satu hal ini.
Masalah terbesar temenku bukan cuma karena dia putus cinta.
Tapi karena ada beberapa keyakinan yang selama ini dia pegang, yang tanpa sadar membuat lukanya makin dalam.
Dan jujur aja, aku juga pernah hidup dengan keyakinan yang sama.
Kita sering lupa sama satu hal ini.
Gak ada manusia yang hidup tanpa iman. Bahkan diluar konteks keagamaan. Semua orang pasti percaya sama sesuatu. (Paham ya maksudnya… iman = kepercayaan)
- Ada yang percaya sama logika.
- Ada yang percaya sama uang.
- Ada yang percaya sama perasaan.
- Ada yang percaya sama dirinya sendiri.
Pertanyaannya bukan,
Apakah kamu punya sesuatu untuk dipercaya?
Tapi,
Apa yang sedang kamu percayai?
Mungkin pertanyaan itu kedengarannya sepele. Tapi hampir semua keputusan dalam hidupmu sebenernya berawal dari sana.
Kita sering ngira hidup dibentuk dari keputusan-keputusan besar.
Misalnya, kayak:
- Milih jurusan.
- Milih pekerjaan.
- Milih pasangan.
- Mulai bisnis.
Padahal semua itu cuma buah. Akarnya adalah apa yang kamu percaya.
Kalau kamu percaya uang adalah sumber rasa aman, kamu jadi punya rasa takut miskin yang berlebihan sampai ganggu waktu istirahat.
Kalau kamu percaya kebahagiaan adalah tujuan hidup, kamu bakalan anggep setiap penderitaan sebagai kegagalan.
Kalau kamu percaya dirimu sendiri adalah sumber kebenaran, kamu jadi sulit menerima koreksi dari siapapun.
Secara gak sadar, kita hidup selalu mengikuti apa yang paling kita percaya.
Dan mungkin disitulah masalahnya.
Kita sibuk memperbaiki buah. Jarang banget periksa akarnya.
Kita pengen hidup lebih tenang. Relasi lebih sehat. Tubuh lebih bugar. Keuangan lebih stabil. Karir yang lebih bermakna.
Tapi jarang nanya ke diri sendiri,
“Keyakinan apa yang selama ini diam-diam mengendalikan hidupku?”
Dan keyakinan yang terbentuk itu dari yang selama ini kita denger di tongkrongan, quote-quote motivasi di media sosial, dan budaya yang udah turun-temurun.
Kita sering cari gampangnya, tanpa mau menanyakan kebenarannya.
Kalau sebuah keyakinan udah memimpin segala keputusan kita setiap hari, dia bukan lagi cuma cara berpikir aja. Dia udah jadi aturan hidup.
Dan menurutku, inilah 6 aturan hidup yang paling sering kita dengar… sekaligus paling jarang kita pertanyakan.
I – Percaya Sama Diri Sendiri
Mungkin ini adalah salah satu nasehat yang paling populer di dunia self-improvement.
Dulu aku juga percaya kalau kalimat itu adalah sebuah kebenaran. Aku bahkan gak pernah kepikiran kalau kalimat itu bisa aja salah.
“Emang salah ya percaya sama diri sendiri?”
“Kalau gak percaya sama diri sendiri, terus percaya sama siapa?”
Hampir semua buku dan konten pengembangan diri ngajarin hal yang sama.
“Follow your heart.”
“Believe in yourself.”
Mentorku pernah bilang sesuatu yang nge-jleb banget.
“Kalau dunia terus menyuruhmu percaya sama dirimu sendiri, jangan heran kalau pelan-pelan kamu mulai menjadikan dirimu sebagai tuhan.”
Awal-awal dengerin itu, aku sempet denial.
“Ah… ngomong apa sih orang ini.”
Tapi gak tau kenapa aku tetep betah dengerin dia ngomong. Makin lama aku dengerin, makin aku sadar kalau dia ada benernya juga.
Coba pikirin deh. Kenapa orang bisa selingkuh?
Apa mereka bangun pagi terus sengaja muncul pikiran:
“Hari ini aku mau menghancurkan keluargaku.”
Enggak dong…
Yang mereka pikirkan justru:
“Aku cuma butuh seseorang yang ngerti aku.”
“Aku juga berhak bahagia.”
“Hubungan kami emang udah lama hambar.”
Kalimatnya terdengar masuk akal. Karena emang kondisi dan situasinya lagi berbicara kayak gitu.
Bahkan jadi pembenaran dengan istilah “puber kedua”. Tapi tetep aja itu salah, kan?
Masalah terbesar manusia bukan kurang percaya diri.
Masalah terbesar manusia adalah terlalu percaya sama dirinya sendiri.
Kita mulai menganggap suara kita lebih layak dipercaya daripada Tuhan.
Di situlah ego pelan-pelan mengambil alih. Semakin besar ego seseorang, biasanya semakin sulit untuk dikoreksi.
Terus, apakah kita gak boleh percaya diri?
Tentu bukan itu maksudnya.
Menurutku, percaya diri yang sehat bukan berasal dari keyakinan bahwa “aku selalu benar.”
Percaya diri yang sehat lahir ketika kita tau identitas kita ada di dalam Tuhan.
Kita berani melangkah bukan karena kita yakin sama diri sendiri. Tapi karena kita yakin Tuhan sedang membentuk diri kita.
Ada perbedaan besar antara dua kalimat ini.
“Aku percaya sama diriku.” dan “Aku percaya Tuhan sanggup memakai diriku.”
Yang satu bikin aku ketergantungan sama kemampuanku sendiri. Yang satu lagi bikin aku ketergantungan sama Pribadi yang jauh lebih besar daripada diriku.
Dan makin dewasa ini, aku makin sadar kalau diriku terlalu lemah buat dijadikan sandaran hidup.
Aku bisa salah.
Aku bisa dipengaruhi emosi.
Aku bisa membenarkan keinginanku sendiri.
Makanya, menurutku cara paling aman menjalani hidup bukan dengan menjadikan diri sendiri sebagai pusat.
Tapi dengan terus belajar menjadikan Tuhan sebagai pusat. Karena aku sadar, ada banyak hal yang gak bisa aku tanggung sendirian. Belajar berhenti sok kuat.
Sejauh ini, setelah aku belajar berhenti mengandalkan diriku sendiri, justru semakin tenang aku menjalani hidup.
Karena pada akhirnya, kita semua sedang berjalan mengikuti sesuatu.
Pertanyaannya cuma satu.
Apakah sesuatu itu cukup kuat buat kamu tetep tenang… pas hidupmu mulai berantakan?
II – Hidup Itu Jangan Dibikin Susah
Aturan hidup yang model ini kedengarannya masuk akal.
Siapa sih yang sengaja milih jalan yang lebih sulit kalau ada jalan yang lebih mudah?
Bisa dibilang, dulu aku termasuk orang yang ahli di bidang mencari kenyamanan.
Awal-awal belajar ngerokok, emang pengen keliatan keren aja. Tapi lama-lama aku udah bisa ngerasain nikmatnya gimana. Dan cukup efektif buat ngilangin stres.
Pas masih kecanduan PMO juga sama. Yang aku cari sebenernya bukan ‘kenikmatannya’.
Aku cuma pengen lari sebentar dari rasa sepi, rasa gagal, dan tekanan hidup yang lagi aku hadapi.
Nikmatnya sesaat. Tapi setelah itu? Semua masalahnya tetep ada. Bahkan seringnya ditambah rasa bersalah.
Kalau dipikir-pikir, ternyata selama ini aku gak lagi nyelesaiin masalah. Aku cuma lagi mencari cara yang paling nyaman buat menghindarinya.
Ide yang paling masuk akal buat jelasin ini aku ambil konsep dari Mihaly lewat bukunya Flow.

Dia jelasin kalau manusia berkembang pas berada di titik tengah antara rasa bosan dan rasa cemas.
Kalau tantangannya terlalu kecil, kita cepat bosan. Kalau tantangannya terlalu besar, kita jadi cemas dan overthinking.
Tapi kalau tantangan itu pas dengan kemampuan kita, disitulah kita masuk ke kondisi yang disebut flow. Bukan kondisi yang paling nyaman, tapi kondisi di mana kita sedang bertumbuh.
Makanya olahraga itu gak nyaman. Belajar skill baru juga gak nyaman. Membangun bisnis gak nyaman. Mengakui kesalahan dan memaafkan orang lain gak nyaman. Berhenti ngerokok gak nyaman. Lepas dari PMO apalagi.
Hampir semua hal yang membuat kita bertumbuh selalu dimulai dari rasa gak nyaman.
Dan menurutku, salah satu kebohongan terbesar yang dijual dunia hari ini adalah “Hidup jangan dibikin susah”.
Padahal gak ada yang sengaja bikin susah hidup, kesusahan itu pasti dateng sendiri. Masalahnya adalah kita masih terbiasa menghindari, sampai akhirnya mau gak mau kita berada di fase menghadapi.

Otot butuh stres untuk berkembang. Pikiran butuh stres untuk menemukan cara paling efektif untuk memecahkan suatu masalah. Stres adalah lifestyle.
Stres yang dikelola dengan baik adalah gaya hidup yang membawa pertumbuhan.
Aku mulai sadar kalau Tuhan sengaja mengijinkan kita melewati proses yang sulit. Karena lewat proses itulah Dia membentuk kita. Karena tujuan-Nya bukan cuma buat kita nyaman, tapi buat kita semakin dewasa.
III – Kejarlah Mimpi Setinggi Langit
Gak ada yang salah sama aturan hidup yang satu ini.
Tuhan juga kasih kita talenta, kesempatan, dan tanggung jawab untuk berkembang.
Masalahnya bukan kita punya ambisi. Masalahnya adalah kalau ambisi berubah menjadi obsesi.
Dulu aku pikir dua hal itu sama. Ternyata beda.
Ambisi membuat kita bekerja keras. Obsesi membuat kita merasa hidup kita bergantung sama hasilnya.
Orang yang ambisius masih bisa menerima kalau rencananya berubah. Orang yang terobsesi gampang banget hancur kalau kenyataan gak sesuai ekspektasi.
Aku pernah ada di fase itu.
Terobsesi banget sama band. Aku ngerasa hidup dan matiku di bidang musik. Tapi endingnya, pas ditinggalin temen.. aku kehilangan arah. Ngerasa gak punya tujuan hidup.
Aku ngerasa gagal banget jadi manusia.
Tapi Puji Tuhan, di fase itu aku jadi serius ngeliat pola yang berulang dihidupku. Dan aku nyadar, kalau selama ini yang aku kejar itu bukan cuma mimpi. Tapi aku sedang menuntut mimpi itu harus jadi takdir hidupku.
Semakin aku mengenal Tuhan, semakin aku sadar kalau Tuhan gak ngelarang kita punya mimpi besar. Yang jadi masalah adalah ketika kita jadiin mimpi besar itu sebagai tuhannya kita.
Sekarang aku mulai belajar bedain keduanya.
Ambisi bikin aku terus bergerak. Obsesi bikin aku memaksa Tuhan mengikuti rencanaku.
IV – Jadilah Versi Terbaik Dirimu
Menurutku, salah satu ketakutan terbesar manusia itu bukan kegagalan.
Tapi ngerasa dirinya biasa-biasa saja. Makanya kita terus mengejar sesuatu.
- Lebih pintar.
- Lebih produktif.
- Lebih disiplin.
- Lebih sehat.
- Lebih sukses.
- Lebih dikenal.
Seolah-olah selalu ada versi lain dari diri kita yang harus segera dikejar.
Aku gak bilang semua itu salah.
Aku sendiri juga udah mulai suka baca, olahraga, belajar hal-hal baru, dan berusaha jadi pribadi yang lebih baik.
Tapi belakangan ini aku mulai flashback dan renungin lagi.
Sempet dulu aku ada di fase ngerasa bersalah banget kalau gak ngegym. Rasanya kayak ada yang kurang. Aku taunya ini ketagihan yang positif.
Dari awal aku motivasiku emang pengen berotot. Menurutku ya keren aja gitu.
Tapi aku gak pernah punya kepikiran buat ikut kontes bodybuilding.
Sampai suatu hari PT yang biasa di tempat gym-ku nyaranin aku buat ikut kontes.
Katanya, “Sayang banget badannya udah bagus.”
Awalnya aku pikir, ya kenapa gak dicoba? Akhirnya aku daftar dan biaya pendaftarannya juga udah aku bayar.
Tapi H-1 sebelum event, malah aku cancel.
Bukan karena aku gak PD. Tapi karena semakin deket ke event, aku malah semakin ngerasa, “Sebenernya aku ngapain ya?”
Aku mulai sadar, dari awal aku ngegym karena emang suka. Aku pengen punya badan yang bagus karena menurutku keren. Tapi aku gak pernah punya tujuan buat naik panggung dan berkompetisi.
Dan kalau dipikir-pikir lagi, hampir aja dulu aku ikut kontes karena kemauan PT-ku bukan karena kemauanku sendiri.
Gak tau ya.. mungkin aku aja ini yang agak aneh orangnya. Harusnya kalau ada orang lain tau potensi kita dan didukung, kita seneng dong?
Tapi entah kenapa aku itu orangnya kalau gak sreg ya gak sreg, kayak susah banget bohong.
Dari situ aku jadi mulai mikir, jangan-jangan aku terjebak sama konsep “menjadi versi terbaik dari sendiri”
Coba pikirin lagi, bukannya aku dulu nolak buat jadi versi terbaikku ya? bukannya seharusnya aku ikut kontes aja dan tunjukkin semua kerja kerasku ke juri dan ke banyak peserta lainnya? Biar aku juga bisa evaluasi, versiku ini udah terbaik apa belum?
Tapi kalau aku terus-terusan mengejar “versi terbaik”… versi terbaik ini menurut siapa? Dan kapan aku akhirnya bisa ngerasa cukup?
Dan sekarang aku menyadari, dulu aku terlalu mengizinkan standar orang lain buat nentuin arah hidupku.
Mungkin juga itu alasan kenapa banyak orang ngerasa burnout.
Secara gak sadar, kita jadi ikut arus dunia yang serba cepat karena internet ini. Kita jadi gak pernah merenung, apakah ini emang desain dari Tuhan atau bukan.
Kita lebih sibuk mengejar versi terbaik menurut dunia.
- Menurut orang tua.
- Menurut temen.
- Menurut media sosial.
- Menurut lingkungan.
Padahal belum tentu itu adalah tujuan kita diciptakan.
Kalau dipikir-pikir aneh juga, manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang selalu ngerasa dirinya harus menjadi orang lain.
Pohon mangga gak pernah iri sama pohon apel.
Burung beo gak pernah minder karena dia bukan burung elang.
Tapi manusia, selalu ngerasa hidupnya baru berharga kalau bisa berhasil menjadi versi yang lebih hebat menurut standar dunia.
Pelan-pelan, kita mulai percaya kalau harga diri kita terus bergantung sama seberapa jauh kita udah berkembang. Self-improvement jadi berhala modern.
Padahal menurutku, pertumbuhan yang sehat lahir dari kepenuhan dan rasa syukur, bukan dari rasa kurang.
Tuhan emang pengen kita bertumbuh dan berkembang.
Tapi bukan biar kita terus membuktikan diri kalau kita berharga.
Justru karena Tuhan lebih dulu menyatakan kalau kita udah berharga, kita jadi bisa bertumbuh dengan hati yang tenang.
Mungkin disitu bedanya.
Yang satu terus bertumbuh karena takut dirinya belum cukup.
Yang satu lagi bertumbuh karena bersyukur atas hidup yang udah Tuhan desain dan percayakan.
V – Uang Bukan Segalanya Tapi Segalanya Butuh Uang
Kalimat ini pasti udah gak asing.
Dan emang faktanya kayak gitu.
- Makan butuh uang.
- Sekolah butuh uang.
- Berobat butuh uang.
- Nikah juga butuh uang.
Makanya menurutku gak ada yang salah kalau kita kerja keras buat memenuhi kebutuhan hidup.
Tapi kalau kita punya waktu buat mikir sebentar aja.
Masalahnya itu bukan di uangnya. Masalahnya adalah sikap hati kita terhadap uang itu sendiri.
Aku pernah lihat orang yang tadinya sederhana, karakternya berubah setelah punya banyak uang.
Aku juga pernah lihat orang yang tadinya baik, karakter berubah setelah kehilangan uang.
Dari situ polanya udah keliatan.
Uang sebenarnya gak mengubah karakter seseorang. Uang cuma memperjelas karakter yang selama ini udah ada.
Kalau dari awal orang itu sulit merasa cukup, punya uang lebih banyak gak akan bisa bikin dia merasa cukup. Dia bakalan punya target yang lebih besar lagi.
Kalau dari awal orang itu haus pengakuan, uang bisa jadi cuma alat baru buat dapetin pengakuan.
Kalau dari awal orang itu murah hati, biasanya semakin punya banyak uang dia juga semakin murah hati.
Jadi mungkin masalahnya bukan di uangnya.
Uang cuma memperbesar arah hati kita.
Mentorku pernah bilang gini:
“Cara paling mudah mengetahui siapa tuhanmu adalah melihat ke mana uangmu paling mudah pergi.”
Awalnya aku agak tersinggung.
Selama ini.. uangku buat ngegym, beli peralatan olahraga di rumah, beli bahan buat bekal dietku, semua fokusnya cuma buat aku. Aku jadi ngerasa udah me’nuhan’kan diriku sendiri.
Tanpa sadar, uang selalu mengikuti apa yang kita anggap paling berharga.
Sebenenya, Tuhan gak pernah ngelarang kita punya uang kok. Yang Dia mau adalah jangan sampai uang yang mendikte hidup kita.
Karena kalau menurut cerita yang pernah aku denger:
- Ada orang yang hartanya miliaran, tapi tetep susah tidur.
- Ada yang karirnya sukses, tapi keluarganya berantakan.
- Ada yang udah punya semuanya, tapi tetep ngerasa kosong hidupnya.
Berarti uang emang bisa membeli banyak hal. Tapi ternyata gak bisa membeli ketenangan hati.
Bukan salah uangnya. Justru uang itu penting.
Tuhan juga bisa pakai uang buat memberkati banyak orang.
Tapi uang adalah alat. Bukan tempat kita menggantungkan rasa aman. Karena uang bisa hilang. Bisnis bisa gagal. Bisa tiba-tiba kena PHK. Nilai investasi juga bisa turun.
Kalau rasa aman kita ikut naik turun bersama semuanya itu, berarti selama ini kita sedang menggantungkan hidup ke sesuatu yang gak stabil.
Menurutku, bekerja keras itu baik. Menghasilkan uang juga baik. Mengelola keuangan dengan bijak juga penting.
Tapi jangan berharap uang bisa memberi kedamaian yang sebenarnya cuma bisa diberikan sama Tuhan.
Karena pertanyaan penting harus dijawab itu bukan seberapa banyak uang yang kita punya.
Tapi, kalau semua itu hilang, apakah kita masih punya harapan buat hidup?
VI – Kalau Udah Nikah, Rejeki Datang Sendiri
Aku cukup sering denger kalimat ini dari temen-temenku yang baru menikah.
Biasanya mereka ngomong sambil bercanda. Tapi aku juga bisa liat kalau mereka emang percaya sama kalimat itu.
Dan sebagai orang yang belum menikah, kalimat kayak gini cukup sering bikin aku mikir.
Temen yang baru nikah biasanya emang cerita tentang hal-hal yang nyenengin.
Tapi pas aku ngobrol sama temenku lainnya yang udah menikah lima tahun ke atas, ceritanya biasanya jauh lebih kompleks.
Mulai dari belajar ngatur keuangan bareng.
- Belajar menghadapi perbedaan karakter.
- Belajar ngurus anak.
- Belajar menghadapi konflik.
- Bahkan belajar tetep mencintai seseorang yang udah pernah selingkuh demi mempertahankan anak.
Dari situ mataku makin terbuka lebar.
Mungkin masalahnya bukan kalimat “kalau udah nikah, rejeki datang sendiri.”
Mungkin yang perlu dipertanyakan adalah ekspektasi kita terhadap pernikahan.
Karena kadang kita melihat pernikahan kayak sebuah pintu menuju kehidupan yang lebih utuh.
“Kalau udah nikah, pasti gak kesepian lagi.”
“Kalau udah nikah, pasti hidupku lebih terarah.”
“Kalau udah nikah, rejeki juga pasti lebih lancar.”
Lama-lama mindset kita jadi sempit, menganggap semua solusi hidup bisa selesai dengan menikah.
Aku jadi inget obrolanku sama temen SMA-ku hari minggu kemarin itu.
Dia kan lagi ada di fase yang cukup berat. Masih susah move on dari mantan, mulai ngerasa makin jauh dari keluarga, dan sering ngerasa sendirian karena makin dihakimi sama temen-temenku lainnya.
Fokus masalahnya adalah identitas temenku yang masih terlalu melekat di mantannya itu. Ngeliat story mantannya sama cowok lain, udah bikin dia susah tidur.
Tapi yang aku liat.. akar masalah sebenarnya bukan di situ, sebenarnya dia gak cuma kehilangan seseorang. Dia juga lagi kehilangan tempat untuk merasa diterima.
Karena kalau orang udah terbiasa jadiin pasangannya sebagai tempat buat bercerita, cari kenyamanan, dan biar terus ngerasa dicintai, kehilangan hubungan itu rasanya kayak kehilangan sebagian dari hidupnya.
Aku paham banget rasanya, karena aku dulu orangnya juga needy banget kayak gitu. Doi marah dikit, aku udah langsung buru-buru ke rumahnya buat minta maaf. Aku rela salah terus biar gak diputusin.
Bisa dibilang jadi cowok menye-menye lah, lemah banget.
Berhubung sekarang aku udah bisa berdamai dengan diriku sendiri dan menerima banyak angle tentang masalah percintaan ini.
Aku jadi makin yakin kalau pernikahan gak otomatis nyelesaiin masalah yang kita bawa sebelum menikah.
Kalau sebelum menikah kita gampang marah, menikah gak otomatis bikin kita jadi sabar.
Kalau sebelum menikah kita gampang insecure, menikah gak otomatis bikin kita percaya diri.
Kalau sebelum menikah kita gak punya tujuan hidup, menikah justru bisa bikin masalah itu makin kelihatan.
Karena pasangan bukan penyelamat.
Dia manusia juga.
Dia punya luka, trauma, ketakutan, kebutuhan, dan masalahnya sendiri.
Dan menurutku di sinilah kita sering salah memahami cinta.
Kita berharap pasangan bisa bikin kita ngerasa utuh.
Padahal kalau kita membawa diri ke dalam sebuah hubungan dengan keadaan kosong, kita bisa menuntut pasangan buat mengisi kekosongan itu.
Akhirnya hubungan yang seharusnya jadi tempat buat saling mengisi berubah jadi tempat buat saling menuntut.
Bayangin aja kalau gelas kita kosong, kita mau ngisi apa? Saling mengisi terjadi kalau gelas kita sama-sama penuh.
Jadi menurutku, menikah itu bukan garis finish dari kehidupan.
Menikah adalah awal dari tanggung jawab yang baru, kita bakalan nemu masalah baru.
Soal rejeki, aku percaya Tuhan emang bisa aja pakai pernikahan buat buka peluang yang sebelumnya gak kita liat. Ada orang yang setelah menikah emang hidupnya jadi lebih baik, termasuk dalam hal keuangan.
Tapi bukan berarti setelah menikah semua masalah langsung selesai.
Karena kalau kita mikir setelah menikah hidup kita pasti lebih tenang, berarti kita sedang nunggu pernikahan buat kasih kita sesuatu yang sebenarnya cuma bisa kita temukan di dalam Tuhan.
Seolah-olah kita jadi me’nuhan’kan pernikahan itu sendiri.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi,
“Kapan aku menikah?”
Tapi,
“Kalau suatu hari aku menikah, apakah aku udah belajar hidup dengan benar bahkan sebelum ada pasangan?”
Jadi, arah kita bukan lagi nemuin pasangan yang tepat. Tapi jadi orang yang tepat biar ditemuin pasangan.
Penutup: Mengapa Semua Aturan Hidup Ini Terasa Benar?
Kalau diperhatiin, 6 aturan hidup yang kita bahas tadi sebenernya gak ada yang salah.
- Percaya sama diri sendiri.
- Hidup jangan dibikin susah.
- Kejar mimpimu.
- Jadilah versi terbaik dirimu.
- Cari uang sebanyak-banyaknya.
- Temukan pasangan yang tepat.
Semuanya masuk akal.
Tapi menurutku yang perlu diwaspadai adalah ketika aturan hidup yang awalnya cuma bagian dari hidup, pelan-pelan berubah menjadi tujuan utama hidup.
Kita mulai percaya,
“Kalau aku bisa percaya sama diriku sendiri, semuanya akan baik-baik aja.”
“Kalau mimpiku tercapai, aku pasti bangga.”
“Kalau aku terus berkembang, aku bisa gak ketinggalan sama yang lain.”
“Kalau uangku cukup, aku pasti aman dan gak bakalan pusing mikir tagihan.”
“Kalau aku nemuin pasangan yang tepat, hidupku pasti lebih utuh.”
Keliatannya beda-beda.
Tapi kalau dipikir lebih dalam, semuanya nawarin janji yang sama.
“Kalau kamu bisa dapetin ini, hidupmu akan baik-baik saja.”
Dan mungkin itu alasan kenapa semua aturan ini terasa benar.
Padahal gak ada satupun dari semua itu yang bisa menjamin hidup kita akan selalu baik-baik aja.
- Mimpi bisa gagal.
- Uang bisa habis.
- Pasangan bisa pergi.
- Tubuh bisa menua.
- Pencapaian bisa hilang.
- Bahkan diri kita sendiri dari tahun ke tahun bisa berubah terus.
Kalau seluruh harapan kita ditaruh di sana, cepat atau lambat kita akan kecewa.
Kalau 6 aturan hidup ini mulai kita jadikan sumber utama kebahagiaan, keamanan, atau harga diri, aturan hidup itu bisa berubah menjadi berhala.
Dan berhala modern gak selalu keliatan kayak patung yang kita sembah.
Kadang bentuknya cuma sebuah keyakinan di dalam kepala kita. Kita terlalu mudah percaya kalau ada sesuatu di luar Tuhan yang akhirnya bisa bikin hidup kita jadi aman
Padahal Tuhan gak minta kita berhenti bermimpi.
Dia gak minta kita berhenti bekerja, berhenti bertumbuh, berhenti mencintai, atau berhenti menikmati hidup.
Justru karena itu bentuk kasih sayang dari Tuhan, kita tetep boleh ngejar semua itu. Tapi jangan sampai kita merasa hidup ini berarti kalau udah dapetin semua itu.
Karena kita gak diciptain buat nemuin ketenangan lewat usaha kita sendiri.
Kita cuma disuruh percaya kalau Tuhan udah lebih dulu mengasihi kita. Harga diri kita udah dipegang Tuhan. Jadi kita gak perlu terus nyari validasi dari luar, bahkan dari diri kita sendiri yang juga terbatas ini.
Mungkin setelah baca semua ini, bukan berarti kita harus membuang semua aturan hidup yang selama ini kita dengar.
Kita cuma perlu belajar nanya ke diri sendiri lagi.
“Siapa yang berhak nentuin bagaimana aku harus hidup?”
Dan kalau jawabannya bukan Tuhan, mungkin udah waktunya kita berhenti sebentar dan mulai pelan-pelan mengubah apa yang selama ini kita jadikan pegangan hidup.
Oke itu aja hari ini.
Terima kasih udah baca sampai akhir.
Terus belajar. Terus bergerak. Terus berserah.
— Wigo SP
Disclaimer: Aku bukan dokter, psikolog, atau ahli terapi. Semua yang aku tulis di sini berasal dari pengalaman pribadi dan bacaan yang aku lakukan sendiri. Kalau kamu lagi bergumul sama masalah yang lebih serius, tolong cari bantuan profesional. Artikel ini cuma satu perspektif dari orang biasa yang lagi ada di perjalanan yang sama denganmu.



