Aku butuh 7 tahun untuk menyelesaikan kuliah.
Bukan karena aku malas-malasan, tapi karena aku suka mencari alasan. Seharusnya, dalam 4 tahun aku bisa menyelesaikan skripsi, tapi aku malah suka ngegame dan nonton Drakor yang sudah di tahap adiksi.
Aku yakin masih banyak yang mengalami hal yang sama.
Hari ini, aku mau share metode ‘Deadline Fiktif’ yang bisa mengatasi prokrastinasi selamanya. Kalau kamu mengimplementasikan metode ini, kamu akan segera merasakan manfaatnya:
- Bisa mulai beraksi tanpa menunda
- Produktif tanpa bergantung motivasi
- Terhindar dari stres deadline mendadak
Sayangnya, kita sering tahu harus melakukan sesuatu, tapi tetap memilih hal lain yang lebih menyenangkan.
Kenapa? Karena prokrastinasi bukan sekadar malas, tapi bagian dari cara kerja otak kita.
Otak manusia memang dirancang untuk menunda
Di dalam otak kita, ada tiga karakter yang selalu berperan dalam mengambil keputusan:
(Disclaimer: aku gak menyudutkan identitas manapun, ini cuma contoh biar mudah dipahami)
- Pak RT – Diri Kita yang Sesungguhnya Visioner, selalu punya rencana matang, dan tahu apa yang harus dilakukan. Sayangnya, dia nurut banget sama Bu RT.
- Bu RT – Si Paling Santai Doyan rebahan dan jago mencari alasan. Dia membuat segalanya terasa bisa ditunda, sampai semuanya mepet.
- Pak Satpam – Si Tukang Panik Pendiam, tapi begitu deadline mendekat, dia langsung heboh. Pak RT dipaksa kerja mati-matian dalam waktu singkat.
Selama tidak ada tekanan waktu, Bu RT akan selalu menguasai pikiran kita. Dia membujuk kita untuk menunda dan mengalihkan perhatian ke hal-hal yang lebih menyenangkan.
Masalahnya, tugas bisa selesai kalau Pak Satpam ini muncul. Dan dia hanya muncul saat deadline semakin dekat. Kalau gak ada batas waktu yang jelas, tugas akan terus tertunda.
Semua itu jadi masuk akal, alasan dibalik aku bisa lulus kuliah selama 7 tahun. Itu semua karena deadline semakin dekat dan ada ancaman DO kalau tidak segera diselesaikan.
Ya, ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Tapi dari pengalaman itu, aku belajar bahwa deadline itu penting banget. Tanpa deadline, prokrastinasi akan semakin buruk.
Sayangnya, banyak aspek penting dalam hidup yang terlihat seperti tidak punya deadline—seperti menjaga kesehatan fisik dan mental, atau merencanakan masa depan.
Kalau deadline sepenting itu, kita bisa menipu otak untuk membangunkan Pak Satpam lebih awal agar bisa bekerja sama dengan Pak RT biar gak selalu menuruti keinginan Bu RT.
Caranya? Gunakan metode ‘Deadline Fiktif’.
Berikut 4 langkah menerapkan metode ini:
Step 0: 6-Minute Workout – Bangun Momentum

Hambatan terbesar adalah MEMULAI, bukan mengerjakannya. Pekerjaan terasa berat karena otak belum terbiasa dengan tugas tersebut. Solusinya adalah olahraga singkat selama 6 menit untuk membangun momentum.
Sebuah studi tahun 2019 yang diterbitkan di British Journal of Sports Medicine menemukan bahwa aktivitas fisik di pagi hari dapat meningkatkan fokus, pengambilan keputusan, dan kemampuan belajar.
Kalau lagi gak ada motivasi, lakukan workout 6 menit dulu sebelum mulai tugas besar.
Misalnya: Kalau lagi malas ngerjain skripsi, workout 6 menit dulu biar lebih siap.
Caranya:
- Pilih 1 gerakan bodyweight workout favoritmu (Squat/push-up/sit-up)
- Set timer di HP selama 6 menit
- Lakukan gerakan selama 30 detik
- Istirahat 15 detik
- Ulangi sampai 6 menit selesai
Setelah 6 menit berlalu, otak akan terbiasa dengan aktivitas tersebut. Momentum yang terbangun akan mengurangi keinginan untuk menunda lebih lama.
Kalau masih bingung gimana caranya, aku sudah buatkan Video Follow Along 6-Minute Workout nya di dalam Free Email Course 6 Days to Reset Habits. Kamu bisa langsung join waitlist di sini.
Step 1: 5-Second Rule – Lawan Keraguan

Keraguan muncul ketika otak diberikan waktu untuk berpikir.
Mel Robbins memperkenalkan metode ini untuk menghilangkan celah tersebut dengan memberi instruksi langsung pada tubuh.
Setelah workout singkat, boleh istirahat sebentar, asal tidak melakukan apa pun (alias bengong sebentar). Setiap kali muncul keinginan untuk menunda (misalnya ingin scroll sosmed), hitung mundur 5 detik dan langsung ambil tindakan kecil yang berhubungan dengan tugasmu.
Misalnya:
- Saat tangan otomatis mau scroll sosmed, hitung mundur dalam hati: 5… 4… 3… 2… 1… dan langsung nyalakan laptop atau komputer untuk mulai mengerjakan skripsi
Teknik ini efektif karena memutus siklus negosiasi dengan Bu RT dan langsung mengaktifkan Pak RT.
Step 2: 2-Minute Rule – Mulai Eksekusi

Tugas yang diperkirakan akan selesai dengan jangka waktu yang lama akan terasa berat karena terlihat terlalu kompleks. Cara mengatasinya adalah dengan fokus hanya di 2 menit pertama.
Misalnya:
- Komitmen mengerjakan skripsi hanya 2 menit sebelum memutuskan lanjut atau berhenti.
Begitu sudah mulai, sering kali kita lanjut lebih lama dari 2 menit.
Step 3: 5-Minute Rule – Meningkatkan Durasi Waktu

Setelah melewati dua menit pertama, menambahkan durasi kerja selama lima menit akan membantu memperpanjang fokus.
Misalnya:
- Sebelum scroll sosmed, set timer selama 5 menit sebelum benar-benar ingin berhenti.
Dalam banyak kasus, pekerjaan yang dimulai dengan lima menit akan berlanjut hingga 30-60 menit tanpa kita disadari.
Step 4: Teknik Pomodoro – Mengoptimalkan Fokus

Terlalu lama fokus tanpa istirahat malah bikin capek dan produktivitas turun. Teknik Pomodoro mengatasi ini dengan bekerja selama 25 menit, dan istirahat 5 menit.
Caranya:
- Set timer 25 menit dan fokus bekerja tanpa gangguan.
- Setelah 25 menit, set timer 5 menit untuk istirahat.
- Ulangi ini sampai 3-4 kali sebelum mengambil istirahat lebih panjang.
Misalnya:
- Hanya boleh scroll sosmed setelah menyelesaikan 1 sesi Pomodoro.
Dengan teknik ini, otak diajak kerja dalam waktu singkat, jadi rasanya seperti dikejar deadline beneran.
Kesimpulan:
Motivasi itu gak bisa diandalkan.
Lebih baik, gunakan ‘Deadline Fiktif’ untuk menipu otak biar langsung bertindak.
Mulai dari yang paling mudah:
- 6-Minute Workout untuk bangun momentum.
- 5-Second Rule untuk melawan keraguan.
- 2-Minute Rule untuk mulai eksekusi.
- 5-Minute Rule untuk tingkatkan durasi.
- Pomodoro untuk optimalkan fokus.
Aksi kecil hari ini bisa membentuk habit yang bertahan selamanya.
Itu saja hari ini.
Sampai jumpa Sabtu depan.
– Wigo SP