Sebagian besar manusia menghabiskan hidupnya di dalam sebuah penjara yang sebenernya pintunya gak pernah dikunci.
Penjara itu adalah pikirannya sendiri.
Banyak dari kita percaya kalau semakin lama kita mikir, semakin baik keputusan yang kita ambil.
Padahal seringnya kita cuma ngulang-ngulang pikiran yang sama dengan sudut pandang yang sama.
Overthinking rasanya kayak problem solving.
Itulah kenapa banyak orang yang stuck di dalam penjara ini.
Rasanya itu kayak produktif. Padahal sebenernya gak menghasilkan apa-apa.
Coba belajar jujur sama diri sendiri.
Berapa banyak masalah yang bener-bener selesai cuma karena kamu mikir lebih lama?
Pasti yang lebih sering terjadi malah sebaliknya.
- Kepalamu makin penuh
- Energimu makin habis
- Tapi hidupmu gak kemana-mana
Overthinking itu bukan memenuhi kepalamu dengan pikiran baru. Dia cuma gak mau mengizinkan pikiran lama pergi.
Kekhawatiran masa depan. Penyesalan masa lalu. Obrolan yang sebenernya udah selesai minggu lalu. Semuanya terus hidup di kepalamu, sampai kamu sulit bedain mana yang udah terjadi, mana yang sedang terjadi, dan mana yang belum tentu terjadi.
Dan karena suara itu terdengar dari kepalamu sendiri, kamu anggep semuanya adalah kebenaran.
Padahal pikiran itu ya cuma pikiran. Bukan selalu kenyataan.
Masalah ini gak bisa selesai kalau kamu cuma berusaha keras kayak: “Stop, plis tidur!”. Yang ada dia makin parah kan… Dan kalau emang semudah itu, mungkin kamu gak bakal baca artikel ini.
Pikiran itu pasti selalu muncul, gak bakal bisa ilang. Sama kayak spam email, kamu bisa gak peduli sama email itu karena kamu tau kalau itu spam.
Masalahnya, kamu gak bisa bedain mana pikiran yang spam dan bukan. Kamu langsung aja percaya sama semua pikiran yang ada di kepalamu.
Kalaupun misalnya semua pikiranmu benar… kenapa sebagian besar malah bikin kamu menderita?
Alasannya simple.. karena selama ini yang mengendalikan hidupmu itu bukan kenyataan. Tapi cara otakmu menafsirkan kenyataan.
Kabar baiknya, kamu gak perlu teknik yang rumit buat keluar dari masalah ini. Kamu cuma perlu paham cara kerjanya overthinking ini gimana.
Karena kalau kamu udah bisa paham dengan jelas, kamu akan sadar kalau selama ini pintu penjaranya emang gak pernah dikunci.
Oke, mari kita mulai.
I – Overthinking itu Bukan Berpikir
“Kita lebih sering menderita dalam imajinasi daripada dalam kenyataan.” — Seneca
Biar bisa keluar dari jebakan ini, pertama-tama harus sadar dulu kalau sebagian besar hal yang kamu sebut “mikir” itu sebenernya sama sekali bukan kegiatan berpikir.
Itu cuma kebisingan mental.
Mentorku kasih pandangan yang menarik soal ini.
Kita perlu bedain antara Deep Thinking dan Overthinking. Berpikir yang sesungguhnya dan perenungan yang terus muter-muter gak jelas ujungnya. Otak kita pinter banget buat mengaburkan kedua hal ini.
Jadi, kita perlu fokus ke akar dan hasil dari apa yang sedang terjadi di dalam kepala kita:
Berpikir Mendalam (Deep Thinking)
- Terarah, disengaja, punya tujuan yang jelas
- Ada garis finishnya
- Kita bedah masalah dengan detail, ambil keputusan, lalu selesai. Pikiran kembali hening.
Overthinking:
- Muter-muter di tempat, gak ada arah yang jelas
- Kamu cuma mengulang ketakutan dan keraguan yang sama
- Gak pernah sampai ke aksi nyata
Aku kasih ilustrasi kayak gini:
Ceritanya kamu lagi PDKT. Kamu baru aja ngirim chat ke doi. HP udah kamu taruh. 10 menit kemudian kamu cek ternyata udah di read, tapi gak dibales.
Di momen ini, dua pola pikir di kepalamu langsung nunjukkin bedanya:
1) Versi Overthinking
HP kamu pantengin terus-terusan. Setiap beberapa detik sekali kamu cek, berharap udah ada balesan. Tapi ternyata belum dibales juga, dan kamu mulai bikin cerita sendiri di kepalamu:
- “Aduh kok gak dibales?”
- “Aku salah ngomong ya?”
- “Apa dia benci sama aku?”
- “Tapi kemarin baik-baik aja. Kenapa sekarang jadi gini?”
Dari 1 fakta sederhana (chat belum dibales), otakmu berhasil melahirkan 10 skenario yang bermacam-macam bentuknya.
Apakah dengan kamu mantengin HP tiap 10 detik bakal bikin doi tiba-tiba bales? Gak kan…
Yang ada kamu cuma ngulang-ngulang pertanyaan yang intinya sama, kamu makin cemas, kamu gak bisa fokus ngerjain apa-apa, energimu habis terbuang, dan kamu menderita cuma karena imajinasimu sendiri, bukan karena kenyataan.
2) Versi Deep Thinking
Kalau kamu bisa berpikir mendalam atau Deep Thinking, kamu justru mengikuti alur cerita ketakutan itu sampai ke ujung paling ekstremnya:
- Ikuti alur ceritanya: “Oke, let’s say ketakutan terbesarku beneran terjadi. Dia gak bales karena dia emang ilfil sama aku.”
- Ikuti lebih jauh lagi alurnya: “Terus kalau dia ilfil, kenapa? Berarti kita gak bakal jadian.”
- Terus ikuti alur cerita sampai ke ujungnya: “Terus kalau gak jadian, kenapa? Aku bakal jomblo. Terus kalau jomblo? Ya aku tetep hidup, besok matahari tetep terbit, aku tetep bisa makan enak, dan dunia gak kiamat.”
Pas kamu bawa skenario itu sampai ke ujung, otakmu mendadak sadar nemuin kejelasan:
“Lho, ternyata ending yang paling ditakuti otakku itu cuma lebay aja. Gak ada bahaya nyata yang bikin hidupku hancur.”
Ilusi ketakutannya langsung ilang karena kamu udah berani ngeliat ujungnya.
Perbedaan singkatnya itu gini:
Overthinking takut ngeliat ujungnya, makanya dia muter terus di tengah. Deep Thinking berjalan sampai ke ujungnya, sampai dia tau gak ada yang perlu ditakuti.
II – Jebakan Menyendiri
Banyak orang percaya kalau pas ngelamun mikirin masalah itu dikira lagi deep thinking padahal mereka lagi overthinking.
Kalau kata mentorku, pas kita lagi sendirian dan overthinking itu sebenernya kita gak lagi mikir, tapi kita lagi “mendengarkan musuh”.
Siapakah “musuh” ini?
Musuh ini adalah suara iblis yang bernama “kecemasan” di dalam kepalamu sendiri.
Pas kita lagi bengong dan gak fokus, kepala kita ini jadi sasaran empuk buat diserbu si musuh
Overthinking terjadi ketika kita milih pasif aja dengerin apapun yang dibisikin sama si musuh ini.
Si musuh gak pernah bicara fakta. Dia bicara lewat asumsi.
- Bisikan 1: “Kerjaanku kurang bagus deh kayaknya tadi…”
(Kamu cuma dengerin & percaya) - Bisikan 2: “Aku gak ada bakat kayak temen kantorku.”
(Kamu makin panik) - Bisikan 3: “Gimana kalau nanti ada PHK dan aku dipecat?”
(Kamu makin stres) - Bisikan 4: “Aku bakal jadi beban keluarga dan hidupku pasti gagal.”
Inilah tujuan utama dia, kamu jadi putus asa. Kamu ngebiarin si musuh mendikte seluruh narasi hidupmu tanpa pernah kamu pertanyakan kebenarannya.
Ini persis banget kayak yang aku rasain pas awal-awal mau mulai jadi konten kreator.
Pas udah yakin mau bikin konten, kepalaku langsung berisik.
Mulai dari ragu sama ideku yang kayaknya biasa-biasa aja, badanku belum bagus-bagus banget kok sok-sokan mau ngajarin orang buat olahraga, takut diomongin temen sok positif, sampai ujungnya ke bisikan terakhir: “Mending gak usah bikin sekalian daripada bikin malu.”
Lucunya, belum ada siapa pun yang menghakimiku. Tapi aku udah menghakimi diriku sendiri.
III – Adiksi Terhadap Kontrol
Kalau kita tau overthinking itu menguras energi dan gak ada gunanya, kenapa kita tetep lakuin? Kenapa otak kita selalu balik ke pola yang merusak ini?
Jawabannya sederhana: Kita kecanduan kontrol karena rasa takut.
Secara psikologi, otak manusia dirancang untuk mencari rasa aman. Otak kita sangat benci dengan ketidakpastian. Kalau ada hal yang gak pasti di masa depan (entah itu urusan rezeki, jodoh, karir, atau kesehatan) otak anggep itu sebagai sinyal ancaman.
Di sinilah ilusi kontrol masuk. Otak bisikin kita sebuah kebohongan yang halus, misalnya gini:
“Kalau kamu mikirin 100 skenario terburuk dari sekarang, kamu bakal siap menghadapi masalah apapun. Kalau kamu membedah semua ketakutanmu berulang kali, kamu gak akan kaget kalau hal buruk benar-benar terjadi.”
Coba kita evaluasi dengan jujur:
- Pernah gak rasa cemasmu soal masa depan beneran mengubah apa yang bakal terjadi di dunia nyata?
- Pernah gak memutar ulang masa lalu berhasil mengubah sejarah yang udah terjadi?
Dan yang sering terjadi malah sebaliknya, overthinking bikin performamu di dunia nyata makin kacau karena tubuh dan pikiranmu udah kecapekan duluan akibat kecemasan itu.
Kita terjebak karena kita sering jadiin otak kita sebagai penyelamat atas seluruh hidup kita. Kita ngerasa kalau otak kita gak kerja 24/7 buat mikirin masa depan, hidup kita akan hancur.
Padahal, otak itu cuma sebuah alat. Kalau alat itu dipakai terus menerus dan gak dikasih istirahat buat mikirin hal-hal yang gak bisa dikontrol, alat itu jadi overheat dan akhirnya bisa ngerusak badan kita sendiri.
Dan ini ada efek lanjutan kalau kita udah adiksi banget sama yang namanya “kontrol” ini.
Efek “Sakau Mental”: Rasa Bersalah Pas Nyoba Hidup Tenang
Pas kamu coba berhenti mikirin masalahmu dan memilih buat tenang, kepalamu biasanya bakal mendadak bisikin sesuatu yang bikin ragu:
“Kok kamu malah santai-santai aja sih? Harusnya kan kamu panik! Nanti kalau masalah ini makin berantakan gimana?”
Ini jebakan terbesar di dalam otak kita.
Dari kecil, kita tanpa sadar dibentuk buat menganggap kalau makin kita cemas dan kepikiran, artinya kita makin peduli, cerdas, dan bertanggung jawab.
Makanya, pas kita coba buat berhenti overthinking dan memilih hidup tenang, otak kita malah ngerasa ada yang “salah”.
Kondisi hening mendadak rasanya kayak mengancam, dan rasa bersalah mulai pelan-pelan muncul.
Sensasi gelisah dan gak nyaman yang tiba-tiba dateng pas kamu mau lepas dari pikiranmu itu bukan sinyal kalau masalahmu bakalan makin parah.
Itu cuma efek “sakau” mental.
Otakmu yang udah terbiasa disuapi stimulasi panik 24 jam sehari kaget karena kamu gak lagi meladeni semua skenario yang dibuat sama pikiranmu.
Cara keluar dari siklus ini bukan dengan terus berdebat sama pikiranmu. Tapi dengan mengganti kebohongan yang kamu percaya dengan kebenaran.
IV – Kenapa Makin Dipaksa Berhenti Mikir, Malah Makin Parah?
Di sinilah kesalahan fatal yang sering kita lakuin pas nyoba nenangin pikiran, kita coba maksa berhenti mikir.
Pas kamu bilang ke diri sendiri: “Aku harus berhenti overthinking sekarang juga!”, apa yang sebenarnya terjadi di kepalamu?
- Kamu lagi mikirin cara buat gak mikir.
- Kamu lagi menganalisis apakah kamu masih overthinking.
- Kamu lagi nyalahin diri sendiri soalnya masih mikir.
Semua itu adalah pikiran tambahan yang numpuk di atas pikiran yang udah ada.
“Kamu gak lagi memadamkan api, kamu lagi menyiram bensin dengan harapan apinya bakal mati.”
Nyoba berhenti overthinking dengan cara “maksa berhenti mikir” ini adalah bentuk adiksi kontrol itu tadi.
Kamu pakai alat yang sama (pikiran yang cemas) buat nyembuhin penyakit yang diciptain sama alat itu sendiri.
Semakin sering kamu meladeninya, semakin otakmu percaya kalau pikiran itu emang layak dapetin perhatian.
Aku kasih analogi judol.
Gimana caranya orang bisa bener-bener berhenti main judi online?
Apakah dengan cara berjuang mati-matian nahan diri biar tangannya gak pencet tombol spin, sambil terus mantengin layar HP-nya dan berdoa biar gak kepancing lagi?
Aku yakin gak akan berhasil.
Selama dia masih percaya kalau putaran berikutnya mungkin bisa balikin semua modalnya, dia pasti bakal main lagi.
Orang baru bisa berhenti total tanpa perlu bersusah payah pas matanya terbuka dan melihat kenyataannya dengan jelas.
Dia harus sadar kalau algoritma sistemnya emang sudah dirancang biar dia selalu rugi dan bangkrut.
Sensasi “hampir menang” atau “dikasih menang dikit” yang sering dipakai sistem judi online, itu cuma trik manipulasi algoritma buat mainin psikologi pemain.
Pas dia sadar penuh kalau game itu penipuan, otomatis udah gak minat buat mencet tombol spin itu lagi.
Dia gak butuh “usaha keras” buat berhenti, dia cuma kehilangan minat karena sadar lagi ditipu.
Sama persis kayak overthinking.
Overthinking adalah “judi online” buat mentalmu.
Otakmu terus mancing kamu dengan janji manis:
“Pikirin sekali lagi, siapa tau kamu dapet kepastian.”
Padahal, sistem di kepalamu sedang dimanipulasi sama rasa cemas buat menguras seluruh energi hidupmu tanpa pernah ngasih jackpot yang kamu cari, yaitu ketenangan.
Pas kamu menyadari sepenuhnya kalau overthinking adalah permainan manipulatif yang emang gak pernah bisa dimenangin, kamu gak perlu maksa kepalamu buat berhenti.
Kamu cuma kehilangan alasan buat terus ikutin permainannya.
V – Sebuah Kisah Tentang Rasa Takut dan Fokus

Apa pun latar belakang imanmu hari ini, ada satu kisah yang udah dimuat lebih dari 2.000 tahun, tapi masih bisa menjelaskan dengan sangat akurat bagaimana manusia menghadapi rasa takut.
Kisah ini dicatat dalam Alkitab, tepatnya di Matius 14:29-31. Ceritanya tentang sekelompok murid yang terjebak badai di tengah danau pada malam hari, lalu Petrus melakukan sesuatu yang gak masuk akal: berjalan di atas air.
Kita baca dulu ayatnya:
“Lalu Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasakannya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!’ Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” – Matius 14:29-31
Kalau diperhatiin baik-baik, kisah ini sebenernya nunjukin tiga fase yang juga sering terjadi pas kita lagi overthinking.
Fase 1: Melangkah Keluar Perahu (Fokus ke Tujuan / Deep Thinking)
Awalnya, Petrus mampu melakukan sesuatu diluar nalar manusia: dia berjalan di atas air.
Kenapa dia bisa gitu?
Karena mata, pikiran, dan seluruh fokus jiwanya terarah secara penuh kepada satu tujuan (purpose) di depannya, yaitu sosok Gurunya.
Pas fokusmu terkunci ke tujuan yang jelas, kepalamu jernih.
Kamu gak lagi sibuk mikirin kemungkinan terburuk. Kamu cuma sibuk melangkah ke arah yang benar.
Ini adalah cerminan dari Deep Thinking dan Purpose.
Fase 2: Momen Angin Kencang Masuk (Distraksi & Overthinking)
Masalahnya dimulai di sini: “…tetapi ketika dirasakannya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam.”
Petrus tenggelam bukan karena air itu mendadak berubah jadi cair. Airnya sama aja dari tadi.
Dia mulai tenggelam pas dia mengalihkan pandangannya dari tujuan utama dan mulai fokuskan atensinya ke angin kencang dan ombak di sekitarnya.
Di momen itu juga, Petrus berhenti melihat tujuan, dan mulai mempercayai rasa takutnya sendiri.
Mungkin isi kepalanya ngomong gini:
“Gila… ombaknya tinggi banget. Anginnya kenceng banget. Gimana kalau aku tenggelam?“
Pas rasa takut terdengar lebih masuk akal daripada apa yang sebelumnya dia percaya, dia mulai tenggelam.
Bukankah kita juga sering kayak Petrus?
- Masalah di rumah belum selesai
- Tabungan makin tipis
- Umur terus bertambah, tapi hidup rasanya masih jalan di tempat
- Temen-temen mulai menikah, karir mereka naik, sementara kamu masih bingung harus ke mana.
Di situ rasa takut mulai mengambil alih.
Bukan karena semua itu ending-nya pasti buruk. Tapi karena pikiranmu mulai mengubah kemungkinan menjadi kepastian.
Dan kamu gak lagi sibuk menjalani hidup. Kamu sibuk hidup di dalam kepalamu sendiri.
Fase 3: Mengulurkan Tangan (Berpikir Lebih Keras vs Percaya Lebih Keras)
Pas Petrus mulai tenggelam di tengah ombak, apa yang bikin dia selamat?
Apakah dia berpikir lebih keras nyoba teknik berenang yang lebih canggih?
Gak kan… Karena di momen itu, dia sadar ada batas dari kemampuannya sendiri.
Dia selamat karena satu hal: dia berhenti sok pintar. Dia melepaskan ilusi kontrol yang sia-sia, lalu mengulurkan tangan minta pertolongan.
Inilah poin terpenting yang aku pelajari dari mentorku:
Kamu gak akan pernah bisa mengalahkan overthinking dengan berpikir lebih keras. Kamu mengalahkannya dengan percaya lebih keras.
“Berpikir Lebih Keras” adalah wujud kesombongan dari otak kita yang ngerasa kalau kita harus jadi “penyelamat” dan “pengontrol” atas semua kehidupan ini.
“Percaya Lebih Keras” adalah keberanian dan kerendahan hati buat mengakui kalau kita cuma manusia biasa yang sangat terbatas. Kita cuma diminta ngelakuin bagian kita, lalu menyerahkan sisanya kepada Tuhan.
VI – Pikiran yang Gak Punya Arah Selalu Cari Masalah
“Orang yang memiliki alasan untuk hidup dapat menanggung hampir semua cara untuk hidup.” – Viktor Frankl.
Pikiran manusia gak dirancang buat hidup tanpa arah. Dia selalu butuh sesuatu buat diisi. Kalau gak diisi tujuan, biasanya dia akan diisi ketakutan.
Makanya, overthinking hampir gak pernah muncul pas kamu bener-bener fokus ngerjain sesuatu yang penting, atau pas kamu lagi mengalami ancaman yang nyata.
Overthinking terjadi pas pikiranmu kehilangan tujuan dan mulai nyiptain masalahnya sendiri.

Aku inget banget pas baru mulai aktif YouTube beberapa tahun lalu.
Dulu aku gak punya sistem buat nulis script yang jelas, gak punya jadwal syuting yang pasti, dan selalu kehabisan ide konten. Burnout udah jadi makanan sehari-hari.
Tapi semuanya mulai berubah pas aku udah nemu sistem yang cocok.
Sekarang, tiap pagi jam 6 sampai jam 7 aku fokus cari topik, nulis draft, dan tiap hari Sabtu aku nyelesaiin 1 essay. Bahkan pas lagi di kantor pun, aku nyicil nulis dikit demi sedikit.
Sebagian besar energi mentalku udah habis buat ngerjain hal-hal yang produktif. Jadi pikiranku gak punya waktu buat muter ke mana-mana.
Jadi overthinking itu gak muncul karena kita kebanyakan masalah. Tapi karena kita kebanyakan energi mental yang gak punya arah.
Kalau energi mentalmu gak dipakai buat aksi nyata, dia bakal habis buat nyiptain kecemasan, ngebayangin skenario buruk yang belum tentu terjadi, atau terus menyesali kejadian yang udah gak bisa diubah lagi.
Makanya orang yang hidupnya masih kehilangan arah, terlalu banyak waktu luang, atau gak punya sesuatu yang lagi diperjuangin, lebih mudah terjebak dalam overthinking.
“Pikiran itu harus sibuk mengerjakan sesuatu. Kalau gak, dia bakal sibuk mengkhawatirkan sesuatu.”
Obat langsung dari jebakan overthinking adalah bergerak.
Misalnya:
- Beresin kamar.
- Bersih-bersih rumah.
- Angkat beban.
- Jalan kaki.
- Nulis.
- Bangun bisnis kecil-kecilan.
Apapun bentuknya, yang penting berhenti hidup cuma di dalam kepala.
Sedikit demi sedikit, energi mentalmu mulai dipakai buat beraksi, bukan lagi buat ngasih makan kecemasan.
Tapi, tetep aja.. pasti ada hari-hari dimana pikiran cemas itu dateng lagi.
Kamu udah punya tujuan. Udah sibuk. Udah bergerak. Tapi tiba-tiba kepalamu mulai berisik lagi.
Nah, di momen itulah banyak dari kita ngelakuin satu kesalahan yang sama. Kita masih terbiasa anggep semua pikiran perlu diladeni. Padahal harusnya gak kayak gitu.
Yang perlu kamu lakukan bukan mengusir pikiran itu. Tapi jangan pernah mengundangnya masuk.
Bayangin aja pikiran itu kayak tamu yang lagi ngetok pintu rumahmu.
Kamu denger dia datang. Kamu tau dia ada. Tapi bukan berarti kamu harus bukain pintu. Cukup intip aja dari dalem.
Kenali kalau itu cuma rasa takut yang lagi caper.
Lalu buat keputusan sederhana:
“Hari ini aku gak akan buka pintu buat pikiran itu.”
Karena kalau pintunya terbuka, dia biasanya gak dateng sendirian. Dia bakal bawa temen-temennya ikutan masuk.
Gak sadar kan.. kalau selama ini kita sibuk cari cara keluar dari penjara overthinking. Padahal, yang kita lakuin malah terus bukain pintunya dari dalam.
Penutup
Kalau selama ini kamu mengira bebas dari overthinking berarti hidup tanpa pikiran sama sekali, kamu bakal kecewa.
Pikiranmu gak akan pernah bener-bener diam. Besok pagi mungkin dia masih ada. Minggu depan mungkin dia masih muncul lagi.
Bedanya, sekarang kamu udah kenal siapa dia. Kamu gak lagi anggep semua suara di kepalamu adalah kebenaran. Kamu juga gak lagi ngerasa harus meladeni semua kecemasan yang seolah-olah semuanya butuh solusi malam ini juga.
Kamu tetep akan berpikir pas emang lagi perlu berpikir.
Pas nyusun strategi bisnis, ngatur keuangan, atau ngambil keputusan penting.
Tapi setelah bagianmu selesai, kamu belajar berhenti sejenak. Kamu berhenti mikirin hal-hal yang emang masih belum perlu dipikirin.
Pelan-pelan, kamu mulai beneran bisa hadir di hidupmu sendiri.
Kamu bisa menikmati hari ini dengan penuh kesadaran. Kamu bisa bener-bener peduli sama orang lain, gak cuma sibuk sama isi kepalamu sendiri. Dan efeknya kamu bisa jadi bisa tidur lebih nyenyak.
Tapi kalau nanti pas mau tidur pikiran-pikiran itu dateng lagi, gak usah panik. Gak usah buru-buru cari jawabannya.
Mungkin tiga hal ini bisa kamu coba:
- Jangan langsung percaya pikiranmu.
Pas pikiran cemas mulai muncul, berhenti sebentar. Tanya ke diri sendiri, “Ini bener-bener perlu dipikirin, atau ini cuma rasa takut yang lagi caper aja?” Gak semua pikiran adalah fakta. Coba baca lagi soal Deep thinking dan Overthinking. - Tulis apa yang emang bisa kamu kerjain besok.
Cukup satu sampai tiga hal aja. Kalau udah ditulis, berhenti dipikirin. Besok pagi kamu tinggal kerjain aja. - Percaya lebih keras, dan istirahat.
Kamu juga bisa tulis kecemasanmu dan doakan. Serahin hal-hal yang emang diluar kontrolmu kepada Tuhan.
Jadi intinya, jangan percaya semua pikiranmu.
Dan mungkin… setelah selesai baca artikel ini, overthinking-mu gak langsung ilang. Besok dia mungkin masih dateng lagi.
Tapi sekarang kamu sadar kalau pintu penjaranya ternyata emang gak pernah dikunci.
Sekarang tinggal kamu yang mutusin. Tetep tinggal di dalamnya, atau keluar.
Oke itu aja hari ini.
Terimakasih udah baca sampai akhir.
Terus belajar. Terus bergerak. Terus berserah.
— Wigo SP
Disclaimer: Aku bukan dokter, psikolog, atau ahli terapi. Semua yang aku tulis di sini berasal dari pengalaman pribadi dan bacaan yang aku lakukan sendiri. Kalau kamu lagi bergumul sama masalah yang lebih serius, tolong cari bantuan profesional. Artikel ini cuma satu perspektif dari orang biasa yang lagi ada di perjalanan yang sama denganmu.




